PPT BAB 12 MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
BAB 12
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam:
Apa itu manajemen pendidikan Islam, baik dari segi asal katanya maupun pengertian istilahnya secara utuh.
Penjelasan:
Asal Kata
Kata “manajemen” berasal dari bahasa Inggris: to manage, yang berarti:
Mengurus
Mengatur
Melaksanakan
Mengelola
Memperlakukan
Ini menunjukkan bahwa manajemen berkaitan dengan tindakan atau proses mengendalikan sesuatu dengan teratur dan efektif.
Pengertian Terminologi (Istilah)
Secara istilah, manajemen adalah suatu proses.
Proses ini melibatkan:
Penggunaan sumber daya manusia (misalnya: guru, kepala sekolah, siswa)
Sumber daya lainnya (misalnya: fasilitas, waktu, dana, media pembelajaran)
Tujuannya: mencapai suatu sasaran tertentu—dalam konteks ini adalah tujuan pendidikan Islam.
Pengertian Manajemen Pendidikan Islam
Maka, manajemen pendidikan Islam adalah:
Suatu proses mengelola sumber daya manusia dan sumber daya lainnya dalam konteks pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.Artinya, semua kegiatan dalam pendidikan Islam (seperti pengajaran, pengembangan kurikulum, pembinaan siswa, administrasi sekolah, dll.) perlu diatur, dikelola, dan diarahkan dengan baik agar tujuan pendidikan Islam—yakni membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia—dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Kesimpulan:
Manajemen pendidikan Islam adalah proses mengatur dan mengelola segala sumber daya yang ada dalam lembaga pendidikan Islam untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan Islam secara optimal.
B. Tujuan Manajemen Pendidikan Islam:
Tujuan utama dari diterapkannya manajemen dalam pendidikan Islam, yaitu agar semua sumber daya dalam lembaga pendidikan bisa digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Penjelasan:
Menggerakkan Semua Sumber Daya
Dalam organisasi pendidikan Islam, terdapat berbagai sumber daya seperti:
Tenaga (misalnya guru, staf)
Sarana/prasarana (misalnya ruang kelas, perpustakaan, alat peraga)
Waktu (jadwal belajar, masa studi)
Dana (biaya operasional, gaji, anggaran program)
Tujuan manajemen adalah agar semua sumber ini bisa dimanfaatkan secara optimal, tidak dibiarkan terbengkalai atau digunakan secara sembarangan.
Menghindari Pemborosan
Manajemen yang baik akan menghindarkan pemborosan, seperti:
Waktu yang terbuang karena jadwal tidak teratur
Tenaga yang sia-sia karena tugas tidak jelas
Dana yang tidak efisien penggunaannya
Alat-alat yang tidak digunakan sesuai fungsi
Efisiensi dan Efektivitas
Dengan manajemen yang baik, lembaga pendidikan Islam bisa:
Bekerja dengan hemat (efisien)
Mencapai hasil maksimal (efektif)
Semua kegiatan diarahkan secara terencana dan terorganisir agar berjalan lancar menuju tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Mencapai Tujuan Organisasi
Tujuan akhirnya adalah tercapainya visi dan misi pendidikan Islam, seperti:
Mencetak generasi beriman, berakhlak, dan berilmu
Mewujudkan masyarakat Islami yang cerdas dan bermoral
Kesimpulan:
Tujuan manajemen pendidikan Islam adalah mengatur dan menggerakkan seluruh sumber daya pendidikan agar dapat digunakan secara efisien, menghindari pemborosan, dan mencapai tujuan pendidikan Islam secara maksimal.
C. Dasar-dasar Manajemen Pendidikan Islam
Dasar-dasar manajemen pendidikan Islam adalah prinsip atau sumber utama yang dijadikan rujukan dalam menerapkan sistem manajemen pada lembaga pendidikan Islam. Dasar-dasar ini berfungsi sebagai panduan agar pengelolaan pendidikan sejalan dengan nilai-nilai Islam dan aturan yang berlaku.
Penjabaran Tiap Bagian:
1. Dasar Agama
Dasar ini menunjukkan bahwa konsep manajemen dalam pendidikan Islam bersumber dari ajaran agama Islam, yaitu dari Al-Qur’an, Hadits, serta pandangan para sahabat.
a. Al-Qur’an
Surah al-Sajdah ayat 5 mengandung kata “yudabbiru” (mengatur), yang menunjukkan bahwa Allah adalah pengatur segala urusan alam, dan manusia sebagai khalifah wajib mencontoh pengaturan tersebut dalam kehidupannya, termasuk dalam mengelola pendidikan.
Surah al-Hasyr ayat 18 menekankan pentingnya perencanaan dan perhatian terhadap masa depan, yang dalam istilah manajemen disebut planning (perencanaan). Ini menunjukkan bahwa Islam mendorong keteraturan dan visi jangka panjang dalam pengelolaan.
b. Hadits Nabi
Hadits dari Bukhari tentang amanah menyatakan bahwa jika suatu tugas diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka akan terjadi kehancuran. Ini memberi pelajaran penting bahwa manajemen pendidikan harus dijalankan oleh orang yang memiliki kompetensi (tepat orangnya).
Hadits dari Tabrani menyebut bahwa Allah mencintai pekerjaan yang dilakukan secara itqan (tepat, jelas, rapi, dan tuntas), yang artinya proses kerja dalam pendidikan harus dilakukan secara profesional dan sistematis.
c. Perkataan Sayyidina Ali
Perkataan ini menekankan bahwa meskipun sebuah tujuan benar, jika tidak diorganisasi dengan baik bisa kalah dari kebatilan yang terorganisasi. Artinya, kebenaran dalam pendidikan Islam pun butuh sistem dan manajemen yang rapi agar tidak kalah oleh sistem lain yang lebih tertata.
2. Dasar Psikologis dan Sosial
(Dalam teks tidak dijelaskan rinci, tetapi maksudnya merujuk pada pentingnya memperhatikan kondisi psikologis peserta didik dan realitas sosial masyarakat dalam proses manajemen pendidikan.)
3. Dasar Perundang-undangan yang Berlaku
Ini menunjukkan bahwa manajemen pendidikan Islam juga harus mengikuti hukum positif (undang-undang) yang berlaku di Indonesia, agar bisa berjalan secara legal, terstruktur, dan sesuai standar nasional pendidikan.
a. UUD 1945 Pasal 31
Menekankan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, artinya pengelolaan pendidikan Islam juga harus menjamin aksesibilitas dan keadilan.
b. UU No. 20 Tahun 2003
Mendorong partisipasi masyarakat dalam pendidikan. Ini sesuai dengan prinsip manajemen partisipatif dalam Islam (musyawarah).
c. PP No. 19 Tahun 2005
Menyediakan 8 standar nasional pendidikan, yang semuanya membutuhkan manajemen yang efektif dalam implementasinya, mulai dari standar kurikulum, pendidik, sarana, hingga pembiayaan dan evaluasi.
Kesimpulan:
Dasar-dasar manajemen pendidikan Islam adalah landasan agama dan hukum yang dijadikan pedoman dalam mengelola pendidikan Islam. Landasan tersebut menekankan bahwa pengelolaan pendidikan harus:
Sesuai nilai-nilai Islam (mengandung prinsip amanah, perencanaan, profesionalisme)
Dilakukan secara terstruktur dan sistematis (dengan manajemen yang rapi)
Mematuhi peraturan perundang-undangan negara (agar sah secara hukum)
Mampu menjawab kebutuhan psikologis dan sosial peserta didik
D. Konsep Manajemen Pendidikan Islam
Manajemen dalam pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada aspek teknis seperti pengaturan sumber daya, melainkan juga berlandaskan pada nilai-nilai Al-Qur'an dan ajaran Islam. Berikut adalah penjelasan dari tiga konsep utama yang Anda sebutkan:
1. Efektif dan Efisien
Makna:
Efektif berarti bahwa kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan benar-benar mencapai tujuan atau hasil yang telah direncanakan.
Efisien berarti bahwa kegiatan tersebut dilakukan dengan penggunaan sumber daya (biaya, waktu, tenaga, dll.) seminimal mungkin, tanpa pemborosan.
Kenapa ini penting dalam manajemen pendidikan Islam?
Jika hanya efektif tetapi tidak efisien, maka bisa terjadi pemborosan.
Jika hanya efisien tetapi tidak efektif, maka tujuan yang diharapkan tidak tercapai.
Landasan Al-Qur'an:
Surat Al-Kahfi ayat 103-104 mengingatkan bahwa ada orang yang merasa telah berbuat baik, tetapi ternyata amalnya sia-sia karena tidak sesuai dengan petunjuk Allah. Ini menunjukkan pentingnya efektivitas (amal yang benar dan bermanfaat) dan efisiensi (tidak sia-sia, tidak boros).
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.’”
(QS. Al-Kahfi: 103–104)
2. Terbuka
Makna:
Terbuka di sini berarti:
Mau memberikan informasi yang benar.
Mau menerima dan memberi saran atau kritik.
Memberi kesempatan kepada semua pihak, terutama staf, untuk berkembang sesuai kemampuan mereka.
Kenapa ini penting dalam manajemen pendidikan Islam?
Tanpa keterbukaan, komunikasi tidak akan berjalan baik.
Pengambilan keputusan menjadi tidak adil atau tidak optimal.
Keterbukaan hanya mungkin terjadi jika ada kejujuran dan keadilan.
Landasan Al-Qur’an:
Surat An-Nisa ayat 58 menekankan perintah untuk:
Menyampaikan amanah (tanggung jawab) kepada yang berhak.
Berlaku adil saat menetapkan keputusan.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil...”
(QS. An-Nisa: 58)
3. Kooperatif dan Partisipatif
Makna:
Kooperatif artinya mau bekerja sama dengan orang lain.
Partisipatif artinya melibatkan orang lain dalam proses, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan tugas.
Kenapa ini penting dalam manajemen pendidikan Islam?
Pendidikan tidak bisa dijalankan sendiri.
Diperlukan kerja tim dan kolaborasi antara kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat.
Landasan Al-Qur'an:
Surat Al-Maidah ayat 2 menekankan pentingnya kerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta larangan bekerja sama dalam dosa dan permusuhan.
“Bertolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
(QS. Al-Maidah: 2)
Kesimpulan:
Tiga nilai utama dalam manajemen pendidikan Islam yang dijelaskan di atas — efektif-efisien, terbuka, dan kooperatif-partisipatif — semuanya berakar dari prinsip-prinsip Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan menurut Islam harus bernilai spiritual, etis, dan profesional sekaligus.
F. Fungsi Manajemen Pendidikan Islam
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan dalam konteks manajemen pendidikan Islam adalah proses awal dan sangat penting sebelum memulai aktivitas atau program pendidikan. Perencanaan ini tidak hanya bersifat teknis atau praktis, tetapi juga bermuatan nilai-nilai Islam, bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis.
Penjelasan Detail:
Definisi Umum:
Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah awal agar suatu pekerjaan bisa mencapai hasil terbaik. Dalam konteks pendidikan Islam, ini menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program pendidikan.Pentingnya Perencanaan:
Tanpa perencanaan, aktivitas pendidikan Islam bisa gagal atau menyimpang dari tujuan. Oleh karena itu, perencanaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, hati-hati, dan bernuansa syariat.Landasan Ayat Al-Qur'an:
Beberapa ayat disampaikan untuk menegaskan pentingnya perencanaan:Q.S. Al-Hasyr: 18 → mengajak manusia untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan di masa depan.
Q.S. Al-Hajj: 77 → mendorong untuk berbuat kebajikan.
Q.S. An-Nahl: 90 → menekankan keadilan dan kebaikan dalam mengambil keputusan.
Q.S. Al-Qiyamah: 36 → menolak hidup tanpa pertanggungjawaban (makna perencanaan).
Q.S. Al-Isra’: 36 → larangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu.
Hadis tentang Niat (HR. Bukhari-Muslim):
Menegaskan bahwa niat dalam setiap amal itu penting. Dalam perencanaan pendidikan Islam, niat harus diarahkan kepada Allah, bukan tujuan duniawi semata.Kegunaan Perencanaan:
Membantu menentukan urutan prioritas.
Menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan.
Mengantisipasi hambatan-hambatan yang mungkin terjadi.
Contoh Nyata dari Rasulullah SAW:
Khalwat di Gua Hira: Rasulullah merencanakan untuk menyendiri, merenung, dan mencari solusi sosial, sampai akhirnya mendapat wahyu.
Perjanjian Hudaibiyah: Walaupun secara lahiriah terkesan merugikan, Rasulullah merencanakannya secara matang untuk kemenangan jangka panjang (Fathul Makkah).
2. Pengorganisasian (Organizing)
Setelah perencanaan dilakukan, langkah berikutnya adalah menyusun organisasi, yaitu mengatur sumber daya manusia, alat, dana, dan waktu agar program pendidikan berjalan dengan tertib dan efektif.
Kaitannya dengan Ajaran Islam:
Islam sangat menghargai keteraturan dan kerapihan. Bahkan kebenaran yang tidak terorganisasi bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi. Oleh karena itu, pengorganisasian adalah proses strategis dan spiritual sekaligus.
Kesimpulan :
Fungsi manajemen pendidikan Islam tidak hanya mencakup unsur teknis seperti perencanaan dan pengorganisasian, tetapi juga harus dilandasi oleh nilai-nilai ilahiyah yang bersumber dari Al-Qur'an, Hadis, serta teladan Rasulullah. Perencanaan dan pengorganisasian bukan hanya untuk efisiensi duniawi, tapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan bagian dari ibadah dalam mewujudkan pendidikan Islam yang bermakna dan berkesinambungan.
G. Prinsip Manajemen Pendidikan Islam:
Prinsip manajemen adalah pedoman dasar yang harus dipegang oleh setiap pemimpin atau manajer dalam menjalankan tugasnya. Prinsip-prinsip ini tidak bersifat kaku, artinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan, tetapi tetap tidak boleh diabaikan karena menjadi dasar keberhasilan pengelolaan (termasuk dalam konteks pendidikan Islam).
Berikut penjelasan dari masing-masing prinsip:
1. Pembagian kerja yang berimbang
Tugas dan tanggung jawab dalam sebuah organisasi (misalnya sekolah atau lembaga pendidikan Islam) harus dibagi secara adil dan proporsional kepada setiap anggota kerja. Jangan sampai ada yang terbebani berlebihan, sementara yang lain terlalu ringan tanggung jawabnya. Ini penting agar semua orang bisa bekerja secara efektif dan adil.
2. Pemberian kewenangan dan rasa tanggung jawab yang tegas dan jelas
Setiap orang yang diberi tugas juga harus diberi wewenang (hak untuk memutuskan atau bertindak) agar dapat melaksanakan tugas itu dengan baik. Selain itu, mereka juga harus bertanggung jawab secara langsung kepada atasannya. Jadi tidak hanya disuruh bekerja, tapi juga diberi kepercayaan dan tanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
3. Disiplin
Setiap pekerja atau staf pendidikan harus memiliki komitmen untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan peraturan, jadwal, dan rencana kerja yang telah ditetapkan. Disiplin menjadi kunci ketertiban dan keberhasilan dalam organisasi pendidikan.
4. Kesatuan perintah
Setiap orang dalam organisasi sebaiknya hanya menerima perintah dari satu atasan langsung, bukan dari banyak orang sekaligus. Jika satu orang menerima banyak perintah dari beberapa atasan, bisa terjadi kebingungan dan tumpang tindih perintah yang membuat pekerjaan menjadi tidak efektif.
5. Kesatuan arah
Semua kegiatan dalam organisasi harus diarahkan pada satu tujuan yang sama, dipimpin oleh satu pemimpin, dan mengikuti satu rencana kerja. Ini penting agar semua orang bekerja sejalan dan tidak saling bertabrakan arah atau tujuan.
Kesimpulannya:
Kelima prinsip di atas adalah landasan penting dalam manajemen pendidikan Islam untuk menciptakan organisasi pendidikan yang tertib, adil, efisien, dan terarah sesuai nilai-nilai Islam. Prinsip-prinsip ini juga mencerminkan pentingnya keadilan, tanggung jawab, keteraturan, dan kepemimpinan yang jelas dalam dunia pendidikan.
H. Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam
1. Pemimpin Adalah Titik Pusat Pergerakan
Pemimpin diibaratkan sebagai pusat dari segala gerakan. Artinya, dalam kelompok apa pun, baik dalam pendidikan maupun dalam masyarakat, pasti akan ada satu figur sentral yang menggerakkan, mengatur, dan mengarahkan seluruh anggota kelompok. Tanpa pemimpin, arah dan tujuan organisasi bisa kacau.
2. Kepemimpinan Butuh Kredibilitas
Seorang pemimpin harus memiliki kredibilitas, yaitu kepercayaan dan kemampuan yang diakui untuk memimpin. Kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tapi harus disertai dengan pengaruh yang kuat dan kemampuan mengendalikan organisasi.
3. Jenis-Jenis Kekuatan (Power) dalam Kepemimpinan
Dalam konteks ini, pemimpin yang efektif memiliki tiga bentuk kekuatan utama:
Power eksekutif:
Kekuatan untuk mengatur dan memimpin langsung, serta memiliki wibawa atau kharisma untuk mempengaruhi orang lain.Power legislatif:
Kekuatan untuk membuat aturan atau hukum yang bisa mengatur hubungan dan tugas antar anggota dalam organisasi.Power pembuat keputusan:
Kekuatan untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan konflik atau perselisihan yang muncul dalam pelaksanaan aturan atau kerja kelompok.
4. Kepemimpinan Adalah Amanah dan Tanggung Jawab
Setiap orang punya kemampuan memimpin yang berbeda-beda, ini adalah sunatullah (hukum alam dari Allah). Perbedaan ini bisa dipengaruhi oleh lingkungan dan faktor genetik. Hal ini dijelaskan dalam QS. Az-Zukhruf ayat 32, bahwa Allah-lah yang mengatur dan membagi kemampuan serta kedudukan manusia di dunia secara adil.
5. Prinsip “The Right Man on The Right Place”
Dalam Islam, kepemimpinan harus diberikan kepada orang yang tepat, yang memenuhi syarat atau "ashlah" (yang paling baik). Menempatkan orang yang tidak layak pada posisi penting adalah kesalahan besar dan bisa berakibat fatal, sebagaimana disebut dalam hadits:
“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari)
6. Seleksi Pemimpin Harus Objektif dan Profesional
Untuk memastikan seseorang layak memimpin, perlu dilakukan seleksi yang adil berdasarkan kompetensi dan kesesuaian dengan profil jabatan. Tidak boleh hanya berdasarkan hubungan, senioritas, atau popularitas semata.
7. Tanggung Jawab Pemimpin Termasuk Dalam Mendidik
Kepemimpinan dalam pendidikan Islam juga mencakup keteladanan spiritual dan moral, sebagaimana doa Nabi Ibrahim yang ingin anak keturunannya menjadi pendiri shalat (QS. Ibrahim: 39–40). Artinya, seorang pemimpin pendidikan juga bertugas membina akhlak dan ibadah.
8. Ketaatan kepada Pemimpin Ada Batasnya
Dalam Islam, seorang Muslim wajib taat kepada pemimpin, baik dalam keadaan suka atau tidak suka, selama tidak disuruh bermaksiat. Jika disuruh melakukan maksiat, maka tidak boleh ditaati, sebagaimana dalam hadits:
“Tidak boleh ada ketaatan dalam hal maksiat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim)
Kesimpulan:
Kepemimpinan dalam pendidikan Islam adalah amanah besar yang harus dijalankan oleh orang yang berilmu, berakhlak, kompeten, dan adil. Kepemimpinan bukan hanya memerintah, tetapi juga mengarahkan, memberi teladan, dan menyelesaikan masalah dengan bijak. Islam sangat menekankan pentingnya memilih pemimpin yang tepat, karena pemimpin akan menentukan arah dan kualitas lembaga atau kelompok yang dipimpinnya.
Manajemen Mutu Pendidikan Islam
1. Pengertian Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management/TQM)
Manajemen mutu terpadu (TQM) adalah konsep manajemen modern yang fokus utamanya adalah kualitas (mutu). TQM tidak hanya diterapkan di dunia industri, tetapi juga bisa diterapkan dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam.
Konsep ini memiliki tiga elemen utama:
Total (keseluruhan): Semua unsur dalam organisasi harus terlibat.
Quality (mutu): Tujuan utama adalah menghasilkan kualitas terbaik.
Management (pengelolaan): Proses pengelolaan sistematis untuk perbaikan terus-menerus.
Tujuan TQM adalah mencapai kepuasan pelanggan (dalam konteks pendidikan, pelanggan bisa berarti peserta didik, orang tua, masyarakat), melalui perbaikan mutu yang terus-menerus dan menyeluruh.
2. Relevansi TQM dengan Ajaran Islam
Dalam Islam, ajaran yang menyeluruh (kaffah) mendorong umat untuk:
Meningkatkan kualitas hidup secara total.
Bekerja dan berbuat secara maksimal dan terbaik.
Ayat Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 208) "ادْخُلُواْ فِي ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً" mengandung pesan:
Masuklah ke dalam Islam secara totalitas, tidak setengah-setengah.
“Silm” mengandung makna luas: kedamaian, keselamatan, kualitas, kemakmuran.
Jadi ayat ini seolah menyampaikan: "Berjuanglah meraih kualitas hidup yang terbaik secara menyeluruh."
3. Filsafat Hidup Rasulullah: Kualitas Tanpa Henti
Nabi Muhammad ﷺ menunjukkan melalui kehidupannya bahwa setiap hari harus ada peningkatan kualitas. Ini sejalan dengan prinsip "continuous improvement" dalam TQM — selalu ada perbaikan terus-menerus.
4. Konsep Kesempurnaan dalam Penciptaan Allah (QS. Al-Mulk: 3-4)
Ayat ini menegaskan bahwa:
Ciptaan Allah tidak memiliki cacat.
Segala sesuatu diciptakan dengan sistem dan tatanan yang sempurna.
Ini menginspirasi prinsip “zero defect” dalam TQM, yaitu:
Dalam dunia pendidikan Islam, kita diarahkan untuk meminimalkan kesalahan, bahkan berusaha untuk tidak memiliki kecacatan dalam proses dan hasil pendidikan.
Walaupun dalam kenyataan bisa terjadi human error, tujuan ideal tetap harus dikejar.
5. Kesimpulan
Teks ini ingin menyampaikan bahwa:
Manajemen mutu terpadu adalah sistem pengelolaan modern yang sangat relevan untuk diterapkan dalam pendidikan Islam, karena nilai-nilainya selaras dengan ajaran Islam.
Islam mengajarkan perbaikan mutu dan totalitas dalam segala aspek kehidupan.
Prinsip TQM seperti kualitas, totalitas, perbaikan terus-menerus, dan zero defect sebenarnya sudah tercermin dalam nilai-nilai Islam baik dalam ayat-ayat Al-Qur’an maupun dalam teladan Rasulullah ﷺ.
Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya bisa menjadi pelopor dalam penerapan manajemen mutu terpadu, demi mencetak generasi yang unggul dan berkualitas.
J. kunci keberhasilan manajemen mutu pendidikan Islam
1. Fokus pada Konsumen
Maknanya: Pendidikan Islam harus fokus memenuhi harapan dan kebutuhan "pelanggan", yaitu orang tua, siswa, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain.
Nilai Islam-nya: Ayat Al-Qur’an (Asy-Syu’ara: 181–183) menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam transaksi, yang juga berlaku dalam pelayanan pendidikan.
Kesimpulan: Pelayanan pendidikan harus jujur, adil, dan berkualitas agar memuaskan semua pihak yang terlibat.
2. Kepemimpinan
Maknanya: Keberhasilan pendidikan tergantung pada kepemimpinan yang mampu memberi arah, visi, dan teladan.
Nilai Islam-nya: QS Al-Ahzab: 21 menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam kepemimpinan.
Kesimpulan: Pemimpin pendidikan Islam harus meneladani Rasulullah dalam akhlak, tanggung jawab, dan profesionalitas.
3. Keterlibatan Semua Orang
Maknanya: Semua unsur dalam lembaga pendidikan (guru, siswa, orang tua, staf) harus aktif berpartisipasi.
Hadis: "Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban."
Kesimpulan: Keberhasilan pendidikan hanya dapat dicapai bila semua unsur terlibat dan menjalankan tugasnya secara bertanggung jawab.
4. Pendekatan Proses
Maknanya: Setiap aktivitas dalam pendidikan harus dijalankan dengan proses yang baik dan bertahap.
Nilai Islam-nya: QS Al-Insyiqaq: 19 menekankan bahwa hidup itu bertingkat-tingkat, melalui proses.
Kesimpulan: Pendidikan tidak bisa instan, harus melalui proses bertahap dan sistematis.
5. Pendekatan Sistem pada Manajemen
Maknanya: Pendidikan harus dikelola sebagai sebuah sistem yang terdiri dari banyak komponen yang saling terkait.
Nilai Islam-nya: QS Al-Zumar: 62 menyatakan bahwa Allah mengatur segala sesuatu dalam sistem yang sempurna.
Kesimpulan: Pendidikan Islam harus mengintegrasikan semua komponennya secara terpadu seperti sistem yang diciptakan Allah SWT.
6. Perbaikan Terus-Menerus (Continuous Improvement)
Maknanya: Pendidikan harus selalu dievaluasi dan ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Hadis: “Orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung.”
Kesimpulan: Pendidikan Islam harus terus berinovasi dan memperbaiki diri untuk meningkatkan mutu dan hasil.
7. Pendekatan dalam Pengambilan Keputusan
Maknanya: Keputusan dalam pendidikan harus berdasarkan data, analisis, dan musyawarah.
Nilai Islam-nya: QS Asy-Syura: 38 menganjurkan musyawarah dalam mengambil keputusan.
Kesimpulan: Keputusan dalam manajemen pendidikan Islam tidak boleh asal, harus melalui pertimbangan dan kebijaksanaan bersama.
8. Hubungan dengan Pemasok (Supplier) yang Menguntungkan Kedua Pihak
Maknanya: Kerja sama dengan pihak luar (supplier, mitra, dll.) harus saling menguntungkan dan etis.
Nilai Islam-nya: QS An-Nisa: 29 melarang memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Kesimpulan: Kerja sama dalam pendidikan Islam harus berdasarkan prinsip kejujuran, kesepakatan, dan saling memberi manfaat.
Kesimpulan :
Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) dalam pendidikan Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, bahkan sejalan. Islam sudah lebih dulu memberikan prinsip-prinsip manajemen yang adil, transparan, bertanggung jawab, dan berorientasi pada mutu dan keberkahan.
K. karakteristik manajemen mutu dalam pendidikan Islam
1. Fokus pada Pelanggan
Dalam konteks pendidikan Islam, "pelanggan" bisa diartikan sebagai peserta didik, orang tua, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Ajaran Islam telah menekankan pentingnya memuliakan tamu (dalam hal ini bisa disamakan dengan memuliakan peserta didik), yaitu memberikan pelayanan terbaik, penuh hormat, dan memperhatikan kebutuhan mereka. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam harus berorientasi pada kebutuhan peserta didik sebagai pusat layanan.
2. Obsesi terhadap Kualitas
Islam mendorong umatnya untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, baik dalam aspek iman, akhlak, maupun amal perbuatan. Dalam konteks pendidikan, ini berarti lembaga pendidikan Islam harus memiliki komitmen tinggi terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan, seperti kualitas pengajaran, kurikulum, tenaga pendidik, dan hasil belajar siswa.
3. Pendekatan Ilmiah
Islam menganjurkan untuk tidak gegabah dan asal berprasangka, tetapi harus berdasarkan data, fakta, dan pengetahuan ilmiah. Dalam manajemen mutu pendidikan, segala keputusan dan perbaikan harus didasarkan pada kajian ilmiah, analisis kebutuhan, dan evaluasi yang akurat.
4. Komitmen Jangka Panjang
Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada hasil sesaat, melainkan berfokus pada pembentukan karakter jangka panjang. Dalam Islam, ada perintah untuk selalu memikirkan hari esok (termasuk akhirat), sehingga setiap tindakan dalam pendidikan harus diarahkan untuk mempersiapkan masa depan siswa secara holistik.
5. Kerjasama Tim (Teamwork)
Dalam Islam, umat diminta untuk saling membantu dan bekerja sama. Dalam manajemen mutu pendidikan, kerjasama antar guru, kepala sekolah, siswa, dan masyarakat sangat penting dalam mewujudkan lingkungan belajar yang baik. Tidak ada keberhasilan individu tanpa dukungan kolektif.
6. Perbaikan Secara Berkesinambungan
Islam menganjurkan umatnya untuk terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Dalam manajemen mutu pendidikan, prinsip ini tercermin dalam evaluasi terus-menerus dan pembaruan kebijakan atau metode pendidikan agar senantiasa relevan dan meningkat.
7. Kebebasan yang Terkendali
Islam memberi kebebasan dalam berusaha dan berpikir, namun tetap dalam koridor nilai-nilai syariat. Dalam pendidikan, siswa dan guru boleh bebas berinovasi dan berekspresi, tetapi harus tetap terkait dengan norma-norma Islam, etika, dan tanggung jawab moral.
8. Kesatuan Tujuan
Tujuan utama manusia menurut Islam adalah beribadah kepada Allah. Maka, seluruh aktivitas pendidikan, termasuk manajemen mutu, harus diarahkan untuk mewujudkan insan yang taat, berilmu, dan berakhlak mulia. Kesatuan visi antara lembaga pendidikan, pendidik, dan peserta didik menjadi kunci keberhasilan dalam sistem pendidikan Islam.
Kesimpulan :
Karakteristik manajemen mutu dalam pendidikan Islam selaras dengan prinsip Total Quality Management (TQM) modern, bahkan nilai-nilai tersebut sudah tertanam dalam ajaran Islam jauh sebelum konsep ini dikembangkan di dunia Barat. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang holistik dan menyeluruh, mencakup aspek manajemen, pendidikan, sosial, hingga spiritual.
Komentar
Posting Komentar