PPT BAB 3 : TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
BAB 3 : TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
1. Tujuan dalam Bahasa Arab
Dalam bahasa Arab, ada banyak kata yang maknanya terkait dengan "tujuan", dan masing-masing memiliki nuansa arti yang sedikit berbeda. Ini penting karena pendidikan Islam tidak sekadar punya satu makna tujuan, tetapi bisa berlapis-lapis sesuai tingkatannya.
Berikut penjelasan istilahnya:
Al-Niyyah (النية):
Artinya niat. Letaknya di hati dan berkaitan dengan keikhlasan. Dalam konteks pendidikan, berarti tujuan awal yang tulus karena Allah.
Dalil: QS. Al-Bayyinah ayat 5 – menekankan keikhlasan dalam beribadah.Al-Iradah (الإرادة):
Artinya kehendak atau keinginan yang kuat. Ini adalah dorongan kehendak yang menuntun seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dalil: QS. Yasin ayat 82 – menggambarkan kehendak Allah.Al-Ghardhu (الغرض):
Artinya sasaran atau target tertentu. Dalam pendidikan, ini bisa berarti tujuan-tujuan bidang tertentu.Al-Qashdu (القصد):
Artinya maksud atau sasaran yang ingin dicapai.
Kata ini berkembang menjadi:Al-Maqshud (المقصود): hal yang menjadi tujuan utama
Al-Iqtishad (الاقتصاد): pertengahan, keseimbangan
Dalil: QS. Luqman ayat 19 – perintah agar hidup seimbang, termasuk dalam berjalan dan berbicara.Al-Hadaf (الهدف):
Artinya tujuan atau goal. Kata ini tidak disebut dalam Al-Qur'an atau Hadits, tetapi sering dipakai dalam bahasa Arab modern, misalnya dalam dunia pendidikan dan manajemen.Al-Ghayah (الغاية):
Artinya tujuan akhir atau ultimate goal. Ini adalah titik akhir yang ingin dicapai dalam proses panjang, termasuk dalam pendidikan.
2. Pemaknaan dalam Konteks Pendidikan Islam
Walaupun istilah-istilah di atas berasal dari kosa kata umum bahasa Arab, para pakar pendidikan Islam mencoba memberikan kedudukan yang lebih spesifik, misalnya:
Al-Ghayah: tujuan tertinggi (misalnya, membentuk insan yang taat kepada Allah)
Al-Hadaf: tujuan dalam tahap-tahap proses pendidikan (misalnya: menjadi pelajar yang berakhlak)
Al-Qashdu: tujuan jangka pendek dalam proses pembelajaran
Al-Ghardh: tujuan tiap bidang studi (misalnya: memahami fikih, tafsir, atau akhlak)
Al-Maqshud: tujuan yang dicita-citakan
Al-Niyyah: dasar niat yang ikhlas dalam proses pendidikan
Kesimpulan
Tujuan pendidikan tidak hanya sekadar hasil akhir yang bersifat duniawi, tetapi harus berakar dari niat yang ikhlas (al-niyyah), didorong oleh kehendak baik (al-iradah), mengarahkan kepada sasaran tertentu (al-ghardh dan al-qashdu), dan pada akhirnya mengarah kepada tujuan akhir hidup manusia, yaitu keridhaan Allah (al-ghayah).
Dengan memahami beragam istilah ini, kita bisa menyusun tujuan pendidikan Islam secara lebih holistik dan spiritual, tidak hanya rasional dan teknis.
B. Pengertian Tujuan Pendidikan
Untuk membedakan makna tujuan dari hal-hal lain yang mirip, seperti dorongan (motivasi) dan akibat (hasil), agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami konsep tujuan pendidikan dalam Islam maupun secara umum.
Tujuan pendidikan adalah arah atau sasaran akhir yang ingin dicapai melalui suatu proses pendidikan. Namun, tujuan itu berbeda dari dorongan dan akibat, dan teks ini menjelaskan perbedaannya dengan contoh-contoh yang sangat jelas.
Penjelasan :
1. Tujuan adalah arah yang dituju secara sadar
Tujuan = hasil yang secara sengaja dan sadar ingin dicapai melalui usaha pendidikan.
Contohnya: orang belajar karena ingin mendapat ilmu dan kecakapan hidup.
2. Tujuan berbeda dengan dorongan (motivasi)
Dorongan = naluri atau rangsangan tidak sadar dari dalam diri.
Contoh:
Orang yang sedang tidur menggerakkan tangan karena gigitan nyamuk, bukan karena niat sadar.
Orang yang tidak mau bekerja tapi berubah ketika orang tua meninggal — ini bukan karena tujuan bekerja, tapi karena dorongan keadaan.
Maka, dorongan adalah pemicu, bukan tujuan.
3. Tujuan berbeda dengan akibat (konsekuensi)
Akibat = sesuatu yang terjadi setelah suatu usaha dilakukan, walaupun bukan tujuan awal.
Contoh:
Mahasiswa belajar untuk mendapatkan ilmu.
Tapi akibat dari belajarnya: ia lulus, jadi pegawai, dan bergaji besar.
Tujuannya tetap ilmu, sedangkan lulus, kerja, gaji besar itu adalah akibat atau bonus yang tidak selalu direncanakan.
Kesimpulan :
Tujuan pendidikan harus dipahami sebagai arah sadar yang hendak dicapai, bukan sekadar hasil atau reaksi otomatis. Dalam pendidikan Islam, ini penting agar pendidik dan peserta didik tidak hanya fokus pada hasil duniawi, tetapi juga sadar akan tujuan utama seperti mendekatkan diri kepada Allah, mengembangkan potensi diri, dan mengamalkan ilmu.
C. Fungsi Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memiliki fungsi mengatur arah dan memberi motivasi dalam kegiatan pendidikan. Tanpa tujuan yang jelas, proses pendidikan bisa menjadi tidak terarah, tidak semangat, bahkan gagal mencapai hasil yang diinginkan.
Penjelasan Dua Fungsi Tujuan Pendidikan:
1. Tujuan pendidikan mengarahkan perbuatan mendidik
Artinya: Tujuan pendidikan berfungsi sebagai kompas yang membimbing seluruh proses pendidikan — mulai dari materi, metode, strategi, sampai evaluasi.
Tanpa tujuan yang jelas:
Pendidikan bisa menggunakan metode yang salah.
Tidak efisien karena tidak tahu arah.
Tidak efektif karena tidak sesuai dengan sasaran.
Dalil pendukung:
QS. Al-Takwir: 26
"Maka ke manakah kalian akan pergi?"
Ayat ini menunjukkan pentingnya arah dan tujuan dalam hidup, termasuk dalam pendidikan. Orang-orang kafir disindir karena hidup tanpa arah, padahal Al-Qur’an telah memberi petunjuk jelas.
2. Tujuan pendidikan memberi semangat dan dorongan
Artinya: Tujuan juga berfungsi sebagai motivasi atau penyemangat.
Contoh perumpamaan:
Jika seseorang disuruh berjalan di jalan tertentu tanpa tahu tujuannya, ia akan berjalan dengan ragu-ragu.
Tapi jika ia tahu bahwa di ujung jalan ada kebun indah dan makanan lezat, apalagi ia sedang lapar, maka ia akan berjalan cepat dan penuh semangat.Analogi ini menggambarkan bahwa jika peserta didik tahu tujuan belajar itu mulia, seperti menjadi orang yang berilmu, bertakwa, dan bermanfaat, maka mereka akan lebih termotivasi dalam belajar.
Kesimpulan :
Tujuan pendidikan tidak hanya menjadi arah (arah tindakan), tetapi juga menjadi energi (motivasi semangat) dalam proses mendidik. Maka, dalam pendidikan Islam, perumusan tujuan harus jelas, tepat, dan bermakna, agar pendidikan berjalan dengan efektif, efisien, dan membuahkan hasil yang diridai Allah Swt.
D. Korelasi antara Tujuan Pendidikan dengan Tujuan Hidup Manusia
Tujuan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari tujuan hidup manusia, khususnya tujuan hidup guru. Jika guru tidak jelas tujuan hidupnya, maka pendidikannya pun tidak akan jelas arahnya.
Penjabaran :
1. Tujuan pendidikan ditentukan oleh guru
Guru adalah pihak yang secara langsung mengatur, merancang, dan menjalankan proses pendidikan.
Karena itu, tujuan pendidikan bergantung pada nilai-nilai hidup yang diyakini oleh guru itu sendiri.
Kalau gurunya sadar bahwa hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah, maka tujuan pendidikan yang ia susun juga akan sejalan dengan itu (misalnya membentuk insan yang bertakwa).
2. Tujuan pendidikan bergantung pada kesadaran akan tujuan hidup
Seorang guru tidak mungkin bisa menetapkan tujuan pendidikan yang baik jika ia sendiri tidak tahu untuk apa hidupnya.
Guru yang bingung tentang hidupnya sendiri, tidak akan mampu mendidik dengan arah yang jelas.
Maka, kesadaran akan makna hidup dan tujuan hidup menjadi fondasi penting bagi pendidikan yang bermakna.
3. Guru harus memiliki hirarki nilai
Nilai adalah prinsip atau keyakinan yang dianggap penting dalam hidup.
Nilai inilah yang menjadi motivasi utama seseorang dalam bertindak.
Jika seorang guru menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual, kejujuran, dan kasih sayang, maka tujuan pendidikan yang ia rancang akan mencerminkan nilai-nilai tersebut.
4. Perbedaan tujuan pendidikan berasal dari perbedaan tujuan hidup guru
Jika ada perbedaan antara satu sistem pendidikan dengan yang lain, atau satu guru dengan guru lain, itu karena perbedaan pandangan hidup masing-masing.
Pandangan hidup berakar dari cara seseorang melihat hakikat manusia dan tujuan keberadaan manusia di dunia ini.
Kesimpulan :
Pendidikan bukanlah proses yang netral, tapi sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan pandangan hidup guru sebagai pelaku utama pendidikan. Maka, semakin tinggi kesadaran guru terhadap makna dan tujuan hidupnya, semakin jelas dan bermakna pula tujuan pendidikan yang akan ia arahkan kepada peserta didik.
E. Asal Usul Manusia Menurut Islam
1. Asal-usul manusia menurut Islam
Manusia adalah ciptaan Allah, bukan terbentuk secara kebetulan atau hasil evolusi semata.
Allah menciptakan manusia dari tanah (seperti Nabi Adam) dan dari nuthfah (air mani) untuk keturunannya.
Setelah penciptaan fisik, Allah meniupkan ruh ke dalam tubuh manusia, yang menjadikan manusia memiliki dimensi spiritual.
2. Dua unsur pembentuk manusia
Jasad (jasmani): Berasal dari tanah, bersifat material, dan akan kembali ke tanah ketika mati. Karena itu manusia disebut makhluk biologis.
Ruh (rohani): Bersifat immateri, berasal dari Allah (min ruhi), dan akan kembali kepada-Nya. Dalam ruh terdapat dua daya utama:
Akal (rasional): Berfungsi untuk berpikir.
Kalbu (emosional-spiritual): Berfungsi untuk merasakan (sedih, cinta, takut, dsb).
3. Perkembangan manusia
Jasmani: Berkembang dari kecil → dewasa → tua → mati.
Rohani: Akal berkembang dari tidak tahu → tahu → pikun; kalbu berkembang dalam pengalaman emosi dan nilai.
Manusia punya potensi baik dan buruk, sebagaimana dijelaskan dalam surat Asy-Syams: Allah mengilhamkan kepada manusia dua kecenderungan: kefasikan dan ketakwaan.
4. Pentingnya pendidikan untuk perkembangan manusia
Manusia tidak bisa berkembang sendirian, melainkan sangat bergantung pada lingkungan, terutama lingkungan pendidikan.
Pendidikan Islam memberi perhatian seimbang antara:
Pendidikan jasmani: melalui keterampilan hidup, kedisiplinan fisik.
Pendidikan rohani: melalui ibadah, akhlak, latihan hati (seperti shalat, zakat, puasa, dll).
5. Tujuan akhir pendidikan Islam
Membentuk manusia seutuhnya (insan kamil), yaitu:
Seimbang secara fisik dan spiritual.
Cerdas secara akal dan bersih secara hati.
Mampu mengenali dan menjalani tujuan hidup sesuai petunjuk Allah.
Contoh Analoginya:
Bayangkan manusia seperti sebuah kendaraan:
Mesinnya (jasmani) penting agar bisa bergerak.
Pengemudinya (rohani) penting agar tahu ke mana arah tujuan hidup.
Kalau hanya mengurus mesin tapi tidak tahu arah, maka kendaraan akan berjalan tanpa tujuan atau menabrak. Begitulah manusia tanpa kesadaran ruhani.
Inti Pesan :
Manusia dalam Islam dipandang sebagai makhluk jasmani dan rohani, yang asal-usul dan potensinya berasal dari Allah, dan pendidikan Islam bertugas mengembangkan kedua unsur itu secara seimbang agar manusia menjadi insan kamil, yakni manusia yang paripurna secara akal, hati, dan amal.
"Peran Manusia dalam Islam
Dalam Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang multidimensi, artinya memiliki aspek biologis, sosial, spiritual, dan intelektual. Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah berbeda untuk menggambarkan sisi-sisi manusia ini, dan masing-masing istilah tersebut membawa implikasi (konsekuensi) tentang bagaimana manusia seharusnya hidup dan bertindak dalam kehidupan ini.
1. Al-Basyar (البشر) – Manusia secara biologis/fisik
Maknanya: Al-Basyar menggambarkan manusia sebagai makhluk jasmani – yang punya tubuh, kulit, kebutuhan fisik (makan, minum, reproduksi), dll.
Maksudnya: Islam mengakui bahwa manusia punya kebutuhan jasmani, tetapi manusia tidak boleh hanya mengikuti hawa nafsunya. Ia harus mampu mengelola dorongan biologisnya agar tidak menyimpang dari jalan Allah.
Implikasi: Harus menjaga kesehatan fisik dan mental, menyeimbangkan kebutuhan duniawi dan ruhani, serta tidak merusak diri sendiri.
2. Al-Nâs (الناس) – Manusia sebagai makhluk sosial
Maknanya: Al-Nâs digunakan untuk menyebut manusia dalam konteks hidup bermasyarakat, sebagai bagian dari komunitas dan kelompok sosial.
Maksudnya: Manusia tidak bisa hidup sendiri; ia perlu berinteraksi, saling mengenal, bekerja sama, menolong, dan membina hubungan yang baik antar sesama.
Implikasi: Harus aktif dalam kehidupan sosial, menjaga akhlak dalam hubungan antar manusia (mu’amalah), serta menunaikan tanggung jawab sosial.
3. Al-Insân (الإنسان) – Manusia sebagai makhluk berpikir dan bermoral
Maknanya: Al-Insân menunjukkan manusia sebagai makhluk berakal, mampu memilih antara taat atau durhaka, serta bertanggung jawab atas amal perbuatannya.
Maksudnya: Manusia punya akal dan hati nurani untuk mengenal Allah, memikirkan ciptaan-Nya, dan menjalani hidup dengan ilmu dan kesadaran spiritual.
Implikasi: Harus menggunakan akal untuk mencari ilmu, meningkatkan iman dan amal, serta menjadikan hidup sebagai proses pembelajaran menuju ketakwaan.
4. Banî Ȃdam (بني آدم)
Maknanya:
Kata "Banî Ȃdam" berarti anak-anak atau keturunan Adam (manusia). Kata ini digunakan dalam Al-Qur'an untuk merujuk kepada umat manusia secara umum sebagai keturunan dari Nabi Adam ‘alaihis salam, manusia pertama.
Maksudnya:
Menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki asal usul yang sama, yaitu dari Nabi Adam.
Dalam Islam, kejelasan asal usul (nasab) ini adalah sebuah keistimewaan manusia dibanding makhluk lain.
Implikasinya:
Manusia memiliki struktur keluarga yang jelas, yang harus dibangun melalui pernikahan sah.
Segala aktivitas dalam keluarga—selama tidak bertentangan dengan syariat—dianggap sebagai ibadah.
Setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing.
Bila seseorang mengabaikan nilai-nilai ini (misalnya dengan hidup tanpa aturan syariat dalam keluarga), maka ia telah menyimpang dari kodrat kemanusiaannya.
5. Al-Ins (الإِنس)
Maknanya:
Kata "al-Ins" merujuk kepada manusia, dan akarnya dari kata أنس (jinak atau akrab). Dalam Al-Qur’an, istilah ini sering dipasangkan dengan jin, karena keduanya merupakan dua makhluk berakal ciptaan Allah, namun berbeda sifat.
Maksudnya:
Manusia itu jinak, tampak secara fisik, ramah, serta mampu hidup dalam masyarakat.
Jin adalah lawannya: tersembunyi (tidak kasat mata), dan lebih liar.
Implikasinya:
Manusia harus menyadari sifat jinaknya: tunduk, patuh pada Allah, hidup secara sosial, dan ramah terhadap lingkungan sekitar.
Bila manusia berubah menjadi liar (tidak taat kepada Allah, merusak lingkungan, atau anti-sosial), berarti ia telah kehilangan fitrahnya sebagai al-Ins.
6. Abdullah (عبد الله)
Maknanya:
Abdullah artinya hamba Allah. Ini adalah identitas utama manusia dalam Islam.
Maksudnya:
Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, bukan hanya hidup untuk kepentingan dunia.
Penghambaan ini dilakukan dengan menjalankan perintah Allah (ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dll) dan meninggalkan larangan-Nya.
Dalilnya:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (Al-Bayyinah: 5)
Implikasinya:
Identitas sejati manusia bukan terletak pada harta, jabatan, atau keturunan, tetapi pada sejauh mana ia tunduk dan taat kepada Allah.
Kehidupan manusia bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat dan cara yang sesuai syariat.
7. Khalîfatullâh (خليفة الله)
Maknanya:
Khalîfatullâh berarti wakil Allah di bumi atau pemimpin yang menjalankan amanah Allah dalam mengelola bumi.
Maksudnya:
Allah menciptakan manusia bukan tanpa tujuan, tetapi sebagai pemimpin untuk menegakkan keadilan, menjaga alam, dan membimbing sesama.
Dalam ayat Surah Shad: 26, Nabi Daud disebut sebagai khalifah yang diperintahkan untuk mengadili dengan adil.
Implikasinya:
Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama hidupnya.
Tugas kekhalifahan mencakup semua aspek: lingkungan, keadilan sosial, etika kerja, hingga pengelolaan sumber daya.
Menjadi khalifah bukan soal kekuasaan, tapi soal tanggung jawab moral dan spiritual di hadapan Allah.
Jika seseorang hidup sesuai dengan keempat identitas ini, maka ia hidup sesuai fitrah dan tujuan penciptaannya. Sebaliknya, jika keluar dari nilai-nilai tersebut, maka ia keluar dari kodrat kemanusiaannya menurut Islam.
8: Tujuan Allah Menciptakan Manusia
Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan yang mulia, bukan tanpa maksud. Ada dua tujuan utama penciptaan manusia yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an:
1. Untuk Menyembah (Beribadah) kepada Allah
Dalil:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56)
Penjelasan:
Ibadah di sini bukan hanya shalat atau puasa saja, tetapi segala bentuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah.
Artinya, hidup manusia harus berorientasi pada ketaatan kepada Allah, tidak hanya mengejar dunia semata.
Implikasinya:
Segala aktivitas manusia (belajar, bekerja, berkeluarga, dll.) bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah dan dilakukan sesuai syariat.
Manusia harus menjauhi larangan Allah dan menjalankan perintah-Nya sebagai bentuk penghambaan.
2. Untuk Menjadi Khalifah di Bumi
Dalil:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS Al-Baqarah: 30)
Penjelasan:
Khalifah berarti wakil Allah atau pemimpin di bumi yang bertugas menjaga, memelihara, dan mengelola bumi serta menerapkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Malaikat sempat bertanya kepada Allah karena melihat potensi kerusakan dari manusia, namun Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui hikmah di balik penciptaan manusia.
Implikasinya:
Manusia harus memikul amanah sebagai pengelola bumi:
Menjaga lingkungan dan alam.
Menegakkan kebenaran dan keadilan.
Mewujudkan kehidupan sosial yang baik dan penuh tanggung jawab.
Menjadi khalifah bukan hanya soal kekuasaan, tetapi tanggung jawab moral dan spiritual.
Kesimpulan:
Allah menciptakan manusia dengan dua misi utama:
Menjadi hamba Allah yang menyembah-Nya secara total.
Menjadi khalifah yang mengelola bumi dengan amanah, adil, dan penuh tanggung jawab.
Jika manusia meninggalkan dua tujuan ini, maka ia telah menyimpang dari fungsi penciptaannya dan berpotensi menjadi perusak di bumi seperti yang dikhawatirkan malaikat. Namun bila dua peran ini dijalankan dengan baik, maka manusia akan menjadi makhluk termulia di sisi Allah.
9: Tujuan Hidup Manusia
Tujuan hidup manusia bukan sekadar untuk beribadah dan menjadi khalifah, karena itu adalah tujuan Allah menciptakan manusia.
Sedangkan tujuan hidup manusia sendiri, berdasarkan kesadaran dan pilihannya, adalah untuk mencari dan meraih keridhaan Allah (رِضْوَانُ اللهِ).
Penjelasan :
1. Perbedaan antara “tujuan penciptaan” dan “tujuan hidup”:
Tujuan penciptaan manusia ditentukan oleh Allah:
Untuk beribadah kepada-Nya (Adz-Dzariyat: 56).
Untuk menjadi khalifah di bumi (Al-Baqarah: 30).
Namun, manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan kehendak bebas, bisa memilih apakah mau melaksanakan tujuan itu atau tidak.
2. Allah memberikan kebebasan memilih:
“Barangsiapa yang mau beriman, silakan beriman, dan barangsiapa yang mau kafir, silakan kafir...” (QS Al-Kahfi: 29)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia punya tanggung jawab moral terhadap pilihan hidupnya.
3. Tujuan hidup manusia: Meraih keridhaan Allah
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah...” (QS Al-An‘ām: 162)
Keridhaan Allah (رِضَى اللهِ) adalah tujuan tertinggi dari segala aktivitas dan peran manusia di dunia.
Segala ibadah, pekerjaan, amal, dan perjuangan manusia hendaknya diarahkan untuk mendapatkan rida Allah, bukan semata-mata dunia atau pujian manusia.
4. Ciri manusia yang berhasil mencapai tujuan hidupnya:
Mereka adalah al-nafs al-muthma’innah (jiwa yang tenang) seperti dalam QS Al-Fajr: 27–30.
Manusia yang kembali kepada Allah dalam keadaan diridhai dan meridhai, serta masuk surga bersama para hamba-Nya yang saleh.
Dalam QS Asy-Syu‘arā’: 89, ditegaskan bahwa yang berguna di akhirat hanyalah hati yang bersih (qalbun salīm) — yakni hati yang bebas dari syirik, penyakit hati, dan niat buruk.
Kesimpulan:
Tujuan Allah menciptakan manusia: agar manusia beribadah dan menjadi khalifah.
Tujuan manusia menjalani hidup: agar mendapat keridhaan Allah SWT, dengan memilih jalan iman, ibadah, dan akhlak yang baik.
Manusia yang sukses dalam hidup adalah yang:
Menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya.
Menjalani hidup dengan hati yang bersih.
Diterima sebagai hamba Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Jika diringkas dalam satu kalimat:
Tujuan hidup manusia adalah mengabdi kepada Allah dengan sepenuh hati agar mendapat keridhaan-Nya dan kembali kepada-Nya dalam keadaan suci dan bahagia.
Tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sempurna (insan kāmil), yang diridhai oleh Allah SWT, dengan cara mengembangkan seluruh potensi dirinya secara harmonis — baik spiritual, intelektual, moral, dan sosial — untuk hidup sesuai ajaran Islam di dunia dan akhirat.
Penjelasan
1. Ragam Pendapat Para Tokoh
Para tokoh pendidikan Islam menyampaikan tujuan pendidikan Islam dengan redaksi yang berbeda, tapi semuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu:
Imam Al-Ghazali: tujuan pendidikan adalah kesempurnaan insan (insani) di dunia dan akhirat melalui pencapaian keutamaan lewat ilmu.
Muhammad Munir Mursa: tujuan pendidikan adalah mencapai kesempurnaan manusia, sebagaimana Islam adalah agama yang sempurna (QS Al-Maidah: 3).
Athiyyah al-Abrasyi: pendidikan bertujuan membentuk akhlak yang sempurna.
Ahmad D. Marimba: pendidikan bertujuan membentuk kepribadian Muslim yang utuh.
Abdurrahman al-Nahlawi: pendidikan bertujuan menjadikan manusia sebagai hamba Allah.
Kongres Pendidikan Islam Sedunia (Islamabad, 1980): pendidikan Islam bertujuan mencetak kepribadian Muslim yang seimbang antara iman, ilmu, akal, jiwa, dan fisik, sehingga lahirlah manusia paripurna yang bertawakal kepada Allah.
Kesimpulannya, semua tokoh mengarah pada satu tujuan besar: membentuk manusia yang sempurna secara keislaman, yaitu insān kāmil.
2. Ukuran Kesempurnaan (Insān Kāmil)
Tidak ada manusia yang bisa memastikan apakah dirinya telah sempurna.
Allah lah yang menilai, karena hanya Dia yang tahu siapa yang benar-benar mencapai kesempurnaan itu.
Oleh karena itu, pendidikan Islam berlangsung seumur hidup (lifelong learning) — dari belajar pada orang lain hingga belajar secara mandiri.
3. Pelaksanaan Pendidikan Islam Tidak Terbatas pada Sekolah
Menurut al-Syaibani, pendidikan Islam tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga melalui:
Keluarga
Pesantren
Masjid
Media massa (TV, radio, internet, surat kabar)
Perpustakaan, dll
Semua tempat ini bisa menjadi pusat pendidikan untuk membentuk insan yang paripurna.
4. Tujuan Akhir dan Tujuan Sementara
Tujuan akhir pendidikan Islam: membentuk insān kāmil yang diridhai Allah.
Karena tujuan akhir ini sifatnya umum dan tetap, maka perlu dijabarkan dalam tujuan-tujuan khusus atau tujuan sementara.
Tujuan sementara ini:
Menjadi batu loncatan untuk mencapai tujuan akhir.
Bisa berubah sesuai zaman dan tempat, selama tidak menyimpang dari tujuan besar Islam.
5. Ijtihad dalam Pendidikan
Islam membuka ruang ijtihad bagi para ulama dan pendidik untuk:
Menyesuaikan tujuan-tujuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Tetapi tetap berpijak pada kaidah:
مَا لَا يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Sesuatu yang menjadi syarat terlaksananya kewajiban, maka ia juga menjadi kewajiban.”
Contoh: Jika ingin mencetak generasi Muslim yang kuat, maka pendidikan teknologi, media, literasi, dll juga menjadi wajib disiapkan.
Kesimpulan :
Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia paripurna (insān kāmil) yang diridhai Allah, melalui proses seumur hidup yang melibatkan seluruh aspek kehidupan dan seluruh lembaga masyarakat, serta harus terus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman melalui ijtihad.
Komentar
Posting Komentar