PPT BAB 6 EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM
BAB 6
EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Evaluasi
1. Asal Kata Evaluasi
Bahasa Inggris: Evaluation artinya penilaian atau penaksiran.
Bahasa Arab:
Imtihan berarti ujian.
Khataman berarti penilaian akhir atau pengujian hasil akhir dari suatu proses.
Ini menunjukkan bahwa evaluasi tidak hanya tentang angka atau nilai, tetapi juga tentang proses dan hasil akhir dari kegiatan belajar.
2. Makna Evaluasi dalam Pendidikan Islam
Evaluasi adalah:
Proses yang direncanakan dan tidak spontan.
Bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang:
Kemajuan siswa (apakah ada peningkatan?),
Pertumbuhan (apakah ada perkembangan sikap, akhlak, pemahaman?),
Pencapaian tujuan pendidikan (apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai?).
Dengan hasil evaluasi itu, kita bisa:
Menentukan apakah kegiatan pembelajaran berhasil atau tidak.
Mengambil keputusan selanjutnya, misalnya: perlu mengulang materi, mengganti metode, atau memberi penghargaan/pembinaan.
Kesimpulan:
Evaluasi dalam pendidikan Islam bukan sekadar "memberi nilai", tapi menilai seluruh proses pendidikan secara menyeluruh dan terarah. Evaluasi dilakukan untuk:
Mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan tercapai,
Menentukan tindakan perbaikan yang perlu dilakukan,
Dan memastikan bahwa proses pendidikan berjalan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
B. Pengertian Evaluasi Pendidikan Islam
Evaluasi pendidikan Islam adalah proses menilai sejauh mana keberhasilan kegiatan pendidikan Islam, baik secara terbatas (misalnya guru dan siswa) maupun secara luas (misalnya sistem pendidikan secara keseluruhan), dalam mencapai tujuan pendidikan Islam.
Penjelasan Poin-Poinnya:
1. Evaluasi dalam pendidikan secara umum:
Adalah serangkaian tindakan atau proses sistematis untuk menentukan nilai (baik atau tidaknya, berhasil atau tidaknya) dari sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan.
Misalnya: menilai keberhasilan pengajaran, keefektifan metode, atau prestasi belajar siswa.
2. Evaluasi dalam pendidikan Islam:
Diartikan sebagai kegiatan untuk mengukur kemajuan proses pendidikan Islam, apakah berjalan sesuai dengan tujuan-tujuan yang diinginkan dalam Islam, seperti membentuk keimanan, akhlak, dan ilmu yang bermanfaat.
3. Dua cakupan evaluasi:
Ruang lingkup terbatas: Menilai keberhasilan guru dalam menyampaikan pelajaran agama kepada siswa.
Ruang lingkup luas: Menilai keberhasilan atau kelemahan seluruh proses pendidikan Islam, termasuk:
Kurikulum,
Metode pengajaran,
Sarana prasarana,
Sistem kelembagaan,
Dll.
Semua ini ditinjau dalam kaitannya dengan tercapainya tujuan pendidikan Islam yang ideal.
4. Tujuan dari evaluasi:
Untuk mengambil keputusan yang penting dalam dunia pendidikan Islam.
Keputusan itu bisa mencakup:
Perencanaan pengajaran,
Pengelolaan kelas atau lembaga,
Perbaikan proses belajar-mengajar,
Tindak lanjut pendidikan (misalnya remedial atau pengembangan lebih lanjut),
Dan menyangkut siswa secara pribadi, kelompok siswa, maupun lembaga pendidikan secara keseluruhan.
Kesimpulan:
Evaluasi pendidikan Islam adalah alat penting untuk menilai dan memperbaiki proses pendidikan agar berjalan sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan Islam. Evaluasi ini tidak hanya soal menguji siswa, tapi juga mengevaluasi sistem dan proses pendidikan secara menyeluruh.
C. Tujuan Evaluasi Pendidikan Islam
Evaluasi pendidikan Islam dilakukan bukan sekadar menilai angka atau nilai akhir, melainkan untuk mengetahui keberhasilan proses pendidikan Islam secara menyeluruh, baik dari segi hasil belajar, efektivitas metode pengajaran, maupun pencapaian tujuan-tujuan pendidikan Islam itu sendiri.
Penjabaran Tujuan Evaluasi:
1. Mencari informasi atau bukti pencapaian tujuan:
Artinya, evaluasi digunakan untuk:
Mengukur sejauh mana peserta didik telah memahami materi pelajaran agama Islam.
Mengetahui apakah tujuan pendidikan Islam yang diinginkan (misalnya: membentuk akhlak mulia, menguasai ilmu agama, menanamkan iman dan takwa) sudah tercapai atau belum.
Mengevaluasi keberhasilan lembaga pendidikan (seperti sekolah, madrasah, pesantren) dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan misi pendidikan Islam.
Contoh:
Jika tujuan pelajaran fiqih adalah agar siswa memahami tata cara wudhu, maka evaluasi akan mencari bukti apakah siswa benar-benar tahu dan bisa mempraktikkannya dengan benar.
2. Mengetahui efektivitas proses dan cara yang ditempuh:
Artinya, evaluasi tidak hanya melihat hasil akhir, tapi juga menilai apakah metode, pendekatan, atau strategi pengajaran yang digunakan sudah efektif.
Contoh:
Jika guru menggunakan metode ceramah, maka melalui evaluasi bisa dilihat apakah metode itu membuat siswa mudah memahami pelajaran atau justru membuat siswa pasif. Jika kurang efektif, maka metode bisa diubah.
Kesimpulan :
Tujuan dari evaluasi pendidikan Islam adalah:
Untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan pembelajaran—baik oleh individu maupun lembaga—telah berhasil mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif, serta untuk menilai apakah proses yang dijalankan sudah tepat atau perlu diperbaiki.
Dengan demikian, evaluasi dalam pendidikan Islam bersifat strategis dan menyeluruh karena menyangkut:
Pencapaian ilmu dan amal siswa.
Akhlak dan kepribadian siswa.
Efektivitas metode pembelajaran.
Keberhasilan lembaga pendidikan dalam melaksanakan misi Islam.
Semua ini demi menjamin bahwa pendidikan Islam benar-benar membentuk insan yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
D. Fungsi Evaluasi Pendidikan Islam
Evaluasi pendidikan Islam memiliki peran penting dalam berbagai aspek, karena membantu semua pihak yang terlibat dalam pendidikan (guru, siswa, pemikir, dan pembuat kebijakan) untuk memahami keberhasilan atau kelemahan pendidikan Islam, serta meningkatkan kualitasnya.
Penjelasan Empat Fungsi Evaluasi:
1. Fungsi bagi Guru:
Tujuannya: Agar guru bisa mengetahui sejauh mana hasil dari pengajaran yang telah ia lakukan.
Artinya: Guru bisa menilai apakah metode dan materi yang digunakan berhasil atau perlu diperbaiki.
Contoh: Jika banyak siswa belum memahami suatu materi, guru bisa mengganti metode mengajarnya.
2. Fungsi bagi Siswa:
Tujuannya: Membantu siswa menyadari perubahan dan perkembangan perilaku mereka, agar bisa diarahkan ke arah yang lebih baik.
Artinya: Evaluasi membantu siswa memahami kekurangan dan potensi diri mereka.
Contoh: Hasil evaluasi bisa mendorong siswa untuk lebih giat belajar atau memperbaiki akhlaknya.
3. Fungsi bagi Pemikir Pendidikan Islam:
Tujuannya: Untuk mengetahui kelemahan dalam teori-teori pendidikan Islam yang sudah ada.
Artinya: Evaluasi menjadi alat untuk menyempurnakan atau merumuskan ulang teori pendidikan Islam, agar tetap relevan dengan zaman.
Contoh: Jika ada teori pendidikan Islam yang tidak efektif dalam konteks modern, pemikir bisa merevisi atau mengganti dengan pendekatan yang lebih sesuai.
4. Fungsi bagi Pengambil Kebijakan (Politik Pendidikan):
Tujuannya: Membantu pihak yang membuat kebijakan pendidikan (misalnya pemerintah atau lembaga pendidikan) dalam mengawasi sistem pendidikan dan membuat kebijakan yang tepat.
Artinya: Evaluasi menyediakan data dan informasi yang bisa dijadikan dasar dalam membuat keputusan besar dalam dunia pendidikan.
Contoh: Jika hasil evaluasi menunjukkan penurunan mutu pendidikan, maka pemerintah bisa membuat kebijakan perbaikan kurikulum atau pelatihan guru.
Kesimpulan:
Evaluasi pendidikan Islam bukan hanya untuk mengukur kemampuan siswa, tapi juga berfungsi strategis bagi semua unsur dalam dunia pendidikan, agar proses pendidikan menjadi lebih baik, lebih relevan, dan lebih efektif dalam membentuk generasi yang berkualitas secara iman, ilmu, dan amal.
E. Prinsip-Prinsip Evaluasi Pendidikan Islam
Tujuan Umum Prinsip Evaluasi:
Prinsip-prinsip ini merupakan pedoman dasar dalam melakukan evaluasi pendidikan Islam agar hasilnya adil, menyeluruh, dan bermanfaat bagi seluruh proses pendidikan. Evaluasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan, tetapi harus berlandaskan nilai-nilai Islam.
Penjelasan Setiap Prinsip:
1. Prinsip Kesinambungan (Kontinuitas):
Maksudnya: Evaluasi harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan, bukan hanya di akhir semester atau tahun.
Tujuannya: Agar hasil evaluasi lebih akurat, adil, dan bermanfaat untuk perbaikan berkelanjutan.
Contoh: Seorang guru mengamati perkembangan akhlak dan pemahaman siswa dari hari ke hari, bukan hanya dari nilai ujian akhir saja.
Dalil Pendukung: QS. Fushshilat: 30 dan Al-Ahqaf: 13-14, yang menekankan pentingnya istiqamah (konsistensi dalam kebaikan), yang bisa disamakan dengan prinsip evaluasi yang kontinu.
2. Prinsip Menyeluruh (Komprehensif):
Maksudnya: Evaluasi tidak hanya menilai aspek akademik, tapi juga sikap, kepribadian, akhlak, kerajinan, tanggung jawab, dan kerja sama.
Tujuannya: Agar siswa dinilai sebagai pribadi utuh, bukan hanya dari hafalan atau nilai ujian.
Contoh: Seorang siswa yang rajin membantu temannya dan jujur, walau nilai akademiknya sedang, tetap mendapat apresiasi.
Dalil Pendukung: QS. Az-Zalzalah: 7 – “Barang siapa berbuat kebaikan walau sebesar dzarrah (kecil sekali), akan terlihat balasannya,” artinya semua aspek perilaku penting untuk diperhitungkan.
3. Prinsip Objektivitas:
Maksudnya: Evaluasi harus dilakukan secara adil dan berdasarkan fakta, tidak boleh dipengaruhi oleh perasaan pribadi, hubungan dekat, atau prasangka.
Tujuannya: Agar hasil evaluasi benar-benar mencerminkan kemampuan dan perilaku yang nyata.
Contoh: Guru tidak boleh memberikan nilai lebih hanya karena siswa tersebut anak pejabat atau karena pribadi yang disukai.
Dalil Pendukung: Hadits Nabi tentang wanita Quraisy yang mencuri dan Rasulullah SAW menolak memberi pengecualian, menunjukkan pentingnya keadilan dalam hukum dan penilaian, bahkan terhadap orang terdekat.
Kesimpulan:
Prinsip-prinsip evaluasi dalam pendidikan Islam menekankan ketelitian, keadilan, keberlanjutan, dan keterpaduan aspek nilai-nilai Islam. Evaluasi tidak hanya menilai “apa yang dikuasai,” tapi juga “bagaimana seseorang menjadi manusia yang lebih baik.”
F. Sistem Evaluasi dalam Pendidikan Islam
1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap problem kehidupan
Dalil: QS. Al-Baqarah: 155
"Sungguh Kami akan menguji kalian..."
Maknanya:
Allah menguji manusia melalui ujian hidup (takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, dan buah-buahan) untuk menilai keteguhan iman dan kesabaran mereka. Dalam konteks pendidikan, ini mengajarkan bahwa evaluasi bisa berbentuk ujian hidup yang menuntut siswa/peserta didik membentuk karakter seperti sabar, tawakal, dan kuat menghadapi tantangan.
2. Untuk mengetahui hasil pendidikan wahyu seperti yang Rasulullah SAW terapkan
Dalil: QS. An-Naml: 27, 40
Tentang Nabi Sulaiman mengevaluasi burung Hud-hud.
Maknanya:
Pendidikan Islam mengajarkan evaluasi terhadap tindakan dan informasi, apakah benar atau salah. Nabi Sulaiman menunjukkan sikap kritis dan ilmiah. Ini berarti dalam pendidikan, siswa juga harus dibimbing untuk menguji informasi, berpikir kritis, dan bertanggung jawab.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat keislaman seseorang
Dalil: QS. Ash-Shaffat: 103-107
Kisah Nabi Ibrahim dan ujian menyembelih Ismail.
Maknanya:
Allah menguji Nabi Ibrahim untuk menilai tingkat kepatuhan dan keimanan. Dalam pendidikan, ini berarti evaluasi dapat menunjukkan tingkat pencapaian spiritual seseorang, apakah ia sudah mencapai derajat ihsan, ikhlas, atau masih pada tahap awal.
4. Untuk mengukur daya kognisi (ingatan dan pemahaman) manusia
Dalil: QS. Al-Baqarah: 31
Tentang Allah mengajarkan nama-nama kepada Nabi Adam.
Maknanya:
Allah menguji Nabi Adam dalam hal pengetahuan dan hafalan. Ini merupakan dasar evaluasi kognitif dalam pendidikan—seperti ujian tertulis atau lisan—untuk mengukur penguasaan ilmu.
5. Memberikan kabar gembira (tabsyir) dan sanksi (iqab)
Dalil: QS. Az-Zalzalah: 8
"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan seberat dzarrah..."
Maknanya:
Evaluasi dalam Islam juga bersifat balasan: yang baik diberi pahala, yang buruk dihukum. Dalam pendidikan, ini mengajarkan pentingnya reward and punishment dalam proses pembelajaran agar siswa termotivasi berbuat baik dan menjauhi keburukan.
Kesimpulan :
Sistem evaluasi dalam pendidikan Islam berakar pada prinsip ilahiyah, bukan hanya sekadar menguji pengetahuan, tapi juga mengukur iman, amal, akhlak, dan spiritualitas manusia. Evaluasi dalam Islam bersifat menyeluruh: menguji mental, akal, hati, dan perilaku, sebagaimana dilakukan Allah kepada para nabi.
G. Cara Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Islam
Evaluasi dalam pendidikan Islam tidak hanya dilakukan oleh guru terhadap siswa atau lembaga terhadap peserta didik, tetapi juga mencakup evaluasi pribadi (diri sendiri) dan evaluasi terhadap sesama dalam rangka memperbaiki kehidupan umat. Dua bentuk evaluasi ini memiliki peran penting dalam pembentukan karakter Islami.
1. Evaluasi terhadap Diri Sendiri (Muhasabah)
Maksudnya:
Evaluasi ini dilakukan oleh setiap individu terhadap dirinya sendiri. Dalam Islam, ini dikenal dengan istilah “muhasabah”, yaitu introspeksi diri untuk menilai amal perbuatan, niat, dan kesalahan yang telah dilakukan.
Tujuannya:
Mengetahui sejauh mana seseorang telah melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Memperbaiki kelemahan dan mempertahankan amal kebaikan.
Dasarnya:
Al-Qur’an (Adz-Dzariyat: 21): “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
→ Ini menekankan bahwa manusia perlu merenungi dan menilai dirinya sendiri.Hadis atau nasihat Umar bin Khattab:
“Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu”
→ Artinya: "Hisablah (evaluasilah) dirimu sebelum kamu dihisab (diperiksa amalmu) oleh Allah."
Catatan penting:
Evaluasi diri bisa kurang objektif jika seseorang tidak jujur terhadap dirinya sendiri, karena manusia cenderung menutupi kekurangannya. Oleh karena itu, kejujuran dan kesadaran untuk berubah sangat penting dalam muhasabah.
2. Evaluasi terhadap Orang Lain
Maksudnya:
Evaluasi ini dilakukan oleh sesama muslim untuk mengoreksi, menasihati, dan mengarahkan orang lain agar tetap di jalan yang benar. Ini berkaitan langsung dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Tujuannya:
Membantu orang lain menyadari kesalahan dan memperbaikinya.
Mendorong kehidupan masyarakat yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (Al-Ashr: 3).
Menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.
Syarat penting:
Niatnya harus ikhlas, bukan untuk menjatuhkan, mempermalukan, atau mencari-cari kesalahan orang lain.
Evaluasi harus disampaikan dengan hikmah (kebijaksanaan), nasihat yang baik, dan kasih sayang.
Alasan perlunya evaluasi eksternal:
Karena manusia bisa melakukan kesalahan akibat hawa nafsu atau bisikan setan.
Evaluasi dari orang lain lebih objektif, dan bisa menyadarkan orang yang belum sadar akan kesalahannya sendiri.
Kesimpulan Maknanya:
Evaluasi pendidikan Islam dilakukan melalui dua cara utama:
Evaluasi diri (muhasabah): untuk memperbaiki diri sendiri dengan kejujuran dan kesadaran spiritual.
Evaluasi orang lain (amar ma’ruf nahi munkar): untuk membantu memperbaiki umat, bukan untuk mencela, tetapi untuk menumbuhkan masyarakat yang saling peduli terhadap kebaikan dan kemajuan moral.
Kedua bentuk evaluasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab keislaman dalam membentuk individu dan masyarakat yang bertakwa, jujur, dan berakhlak mulia.
H. Jenis-jenis Evaluasi Pendidikan Islam
Evaluasi dalam pendidikan Islam dibagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan tujuan dan waktu pelaksanaannya. Berikut adalah maknanya:
1. Evaluasi Formatif
Tujuan: Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari, biasanya dilakukan di tengah proses belajar.
Filosofi Islam: Berdasarkan ayat "manusia diciptakan lemah" (An-Nisa: 28), maka evaluasi ini perlu dilakukan secara bertahap, sebagai bentuk kasih sayang dalam proses pembelajaran.
Implikasi: Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan fokus, sesuai perintah Allah dalam Al-Insyirah: 7-8, agar siswa menguasai satu ilmu terlebih dahulu sebelum berpindah ke yang lain.
2. Evaluasi Sumatif
Tujuan: Untuk menilai hasil akhir belajar peserta didik setelah menyelesaikan satu unit besar pembelajaran (misalnya akhir semester atau tahun).
Filosofi Islam: Seperti dalam Al-Insyiqaq: 19, manusia akan melalui "tingkatan demi tingkatan", begitupun dalam belajar, hasilnya dievaluasi untuk naik ke jenjang berikutnya.
3. Evaluasi Penempatan (Placement)
Tujuan: Dilakukan sebelum proses belajar dimulai untuk menempatkan siswa di posisi, kelas, jurusan, atau program yang sesuai dengan kemampuan awalnya.
Filosofi Islam: Meski tidak disertai ayat khusus dalam teks Anda, secara prinsip ini selaras dengan prinsip keadilan dalam Islam, yakni memberikan sesuai kebutuhan dan kemampuan.
4. Evaluasi Diagnostik
Tujuan: Untuk mengetahui letak kesulitan belajar siswa dan mencari penyebabnya. Ini membantu guru menentukan solusi yang tepat.
Filosofi Islam: Sesuai dengan pendekatan Islam yang memandang setiap individu secara unik dan harus dibantu sesuai kondisinya.
I. Sifat-sifat Evaluasi
Evaluasi dalam pendidikan Islam memiliki dua sifat utama:
1. Kuantitatif
Makna: Evaluasi yang menghasilkan angka atau skor sebagai hasil belajar.
Contoh: Nilai ujian 85, nilai tugas 90.
2. Kualitatif
Makna: Evaluasi dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang menjelaskan kualitas hasil belajar.
Contoh: Ucapan seperti "sangat baik", "cukup", "perlu perbaikan".
Kedua pendekatan ini bisa digunakan bersamaan untuk memberikan penilaian yang lebih adil dan komprehensif.
J. Macam-macam Evaluasi
Evaluasi dalam pendidikan Islam dapat dilakukan melalui:
1. Tes Tertulis (Written Test)
Digunakan untuk mengukur aspek kognitif (pengetahuan), seperti ujian tulis, soal pilihan ganda, atau esai.
2. Tes Lisan (Oral Test)
Juga digunakan untuk mengukur kognitif, namun melalui dialog atau tanya-jawab langsung. Ini penting dalam tradisi Islam, mengingat metode tanya-jawab sering digunakan oleh Nabi Muhammad saw.
3. Tes Perbuatan (Performance Test)
Digunakan untuk mengukur aspek psikomotorik, yaitu kemampuan siswa dalam melakukan suatu tugas secara langsung, seperti praktik ibadah, keterampilan wudhu, tilawah, atau pidato.
Kesimpulan Makna Umum
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa evaluasi dalam pendidikan Islam bukan sekadar mengukur angka keberhasilan, tetapi merupakan proses holistik yang mencakup aspek:
Ilmu dan iman (spiritual)
Kognitif, afektif, dan psikomotorik
Tahapan-tahapan pembelajaran yang sesuai fitrah manusia
Pemberian motivasi dan keadilan dalam penilaian
Evaluasi dilakukan untuk membina dan memperbaiki, bukan hanya untuk menghukum, sesuai dengan misi rahmat dalam ajaran Islam.
Ini dapat menjadi dasar konseptual dalam pengembangan model evaluasi pendidikan Islam yang komprehensif dan berbasis wahyu.
K. Teknik Evaluasi
Teknik evaluasi adalah cara atau metode yang digunakan untuk mengukur dan menilai hasil belajar siswa. Dalam pendidikan Islam, evaluasi tidak hanya menilai aspek kognitif (pengetahuan), tetapi juga menyentuh aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan), sesuai dengan tujuan pendidikan yang utuh dan menyeluruh.
Teknik evaluasi ini terbagi menjadi dua:
1. Teknik Tes
Definisi:
Teknik ini digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual, seperti penguasaan pengetahuan, keterampilan, bakat khusus, dan tingkat kecerdasan siswa.
Macam-macam bentuk teknik tes:
Tes uraian (essay test):
Siswa diminta menjawab dengan kalimat sendiri.Uraian bebas: Jawaban bisa panjang dan bebas, tergantung pemahaman siswa.
Uraian terbatas: Pertanyaan dan jawaban lebih dibatasi pada poin-poin tertentu.
Tes objektif (objective test):
Bentuk tes ini memiliki jawaban yang sudah ditentukan dan biasanya bisa dikoreksi secara otomatis. Contohnya:True-false (benar-salah)
Multiple choice (pilihan ganda)
Matching (menjodohkan)
Completion (isian)
Short answer (jawaban singkat)
Bentuk tes lainnya:
Misalnya, siswa diminta membuat:Ikhtisar (ringkasan)
Laporan tertulis
Tugas-tugas khusus, terutama dalam pelajaran bahasa atau agama seperti membuat ceramah, menulis ayat dan terjemahnya, dsb.
Tujuan utama teknik tes:
Menilai hasil belajar siswa secara lebih obyektif dan terukur.
2. Teknik Nontes
Definisi:
Teknik ini digunakan untuk menilai karakteristik non-akademik, seperti sikap, minat, kepribadian, akhlak, dan kejujuran, yang sangat penting dalam pendidikan Islam.
Macam-macam teknik nontes:
Observasi terkontrol (pengamatan langsung): Guru mengamati sikap dan perilaku siswa dalam kegiatan sehari-hari, seperti saat ibadah, kerja kelompok, atau di luar kelas.
Wawancara (interview): Guru mewawancarai siswa untuk mengetahui sikap, pendapat, atau kesulitan yang dialaminya.
Rating scale (skala penilaian): Guru menilai siswa berdasarkan skala tertentu, misalnya: sangat baik, baik, cukup, kurang.
Inventori: Kuesioner yang berisi daftar pertanyaan untuk mengetahui kepribadian atau minat siswa, bisa dalam bentuk checklist.
Questionnaire (angket): Alat pengumpul data berupa pertanyaan tertulis untuk mengetahui pandangan atau perasaan siswa.
Anecdotal accounts (catatan anekdot): Catatan singkat guru mengenai perilaku unik atau penting yang ditampilkan siswa dalam situasi tertentu.
Kesimpulan:
Dalam evaluasi pendidikan Islam, guru perlu menggunakan kombinasi antara teknik tes dan nontes agar penilaian terhadap siswa lebih komprehensif. Hal ini karena pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian yang mulia.
Dengan kata lain:
Tes = menilai apa yang siswa tahu dan bisa.
Nontes = menilai siapa siswa itu dalam sikap dan akhlaknya.
Ini sejalan dengan misi pendidikan Islam: mencetak insan yang berilmu dan berakhlak.
Komentar
Posting Komentar