PPT BAB 7 GURU DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 BAB 7 : GURU DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Makna dan Peran Guru dalam Pendidikan Islam

1. Pengertian Istilah "Guru" dalam Bahasa Arab

Dalam tradisi pendidikan Islam, kata “guru” memiliki padanan yang beragam dalam bahasa Arab. Istilah-istilah ini menggambarkan berbagai peran seorang pendidik:

  • Ustadz: sering digunakan untuk guru umum, bahkan profesor di perguruan tinggi.

  • Mu’allim: orang yang mengajarkan ilmu (mengacu pada proses ta’līm).

  • Murabbiy: pendidik yang mendidik secara menyeluruh, terutama dalam aspek moral dan spiritual (mengacu pada proses tarbiyah).

  • Mudarris: pengajar atau instruktur dalam arti formal.

  • Mu’addib: pendidik yang menanamkan adab atau etika (mengacu pada proses ta’dīb).

  • Mursyid: pembimbing spiritual yang menunjukkan jalan kebenaran melalui keteladanan.

2. Hubungan Istilah Pendidikan dan Peran Guru

  • Jika pendidikan disebut tarbiyah, maka gurunya disebut murabbiy, yaitu pembina/pembimbing yang memelihara dan mengembangkan potensi murid secara holistik.

  • Jika disebut ta’līm, maka gurunya disebut mu’allim, yang berfokus pada transfer ilmu.

  • Jika disebut ta’dīb, maka gurunya adalah mu’addib, yang berperan menanamkan adab dan akhlak.

3. Istilah yang Populer: Murabbiy dan Ustadz

Dalam pendidikan Islam, kata tarbiyah lebih populer, maka istilah guru lebih identik dengan murabbiy. Namun dalam praktik kelembagaan, guru biasa disebut ustadz, bahkan sampai tingkat profesor. Ini menunjukkan pentingnya profesionalisme dalam peran guru.

4. Peran dan Kompetensi Guru

Seorang guru dalam Islam tidak hanya menyampaikan pelajaran, tapi juga menjalankan peran-peran berikut:

  • Mu’allim: pengajar ilmu pengetahuan; harus berilmu luas dan mampu menyampaikan dengan jelas agar bisa diamalkan oleh murid.

  • Mu’addib: penanam nilai-nilai moral, etika, dan sopan santun; guru menjadi contoh nyata akhlak yang baik.

  • Mudarris: pelatih intelektual; membimbing murid untuk keluar dari kebodohan melalui metode pembelajaran yang efektif.

  • Mursyid: pembimbing spiritual; memiliki kedalaman iman dan akhlak, dan menginspirasi murid untuk mengikuti teladannya.

5. Kesimpulan

Guru dalam Islam adalah sosok yang memiliki tanggung jawab besar, bukan hanya mengajar tetapi juga membina dan mengarahkan murid secara jasmani dan rohani. Tujuannya adalah agar semua potensi yang dimiliki murid bisa berkembang secara seimbang dan optimal, mencakup aspek intelektual, spiritual, dan moral.


PENJELASAN TIAP ISTILAH

  1. Murabbi
    Maknanya: orang yang membina dan mendidik dengan kasih sayang sejak kecil.
    → Fokus: pembinaan sejak dini secara menyeluruh – jasmani dan rohani.

  2. Mu’allim
    Maknanya: orang yang mengajarkan ilmu dan kebenaran.
    → Fokus: transfer ilmu pengetahuan dan nilai kebenaran.

  3. Muzakki
    Maknanya: orang yang mensucikan jiwa, memperbaiki karakter.
    → Fokus: pembinaan akhlak dan kontrol diri.

  4. Ulama
    Maknanya: orang yang sangat dalam ilmunya dan takut kepada Allah.
    → Fokus: intelektual sekaligus spiritual, pembimbing umat yang saleh dan berwibawa.

  5. Rasikhun fi al-‘ilm
    Maknanya: orang yang sangat dalam pemahaman ilmunya, baik zahir maupun batin.
    → Fokus: memahami makna dan hakikat dari ajaran agama.

  6. Ahl Dzikir
    Maknanya: orang yang ahli ilmu dan menjadi tempat bertanya.
    → Fokus: otoritas keilmuan dan kepakaran agama.

  7. Ulul Albab
    Maknanya: orang yang berpikir dan berzikir — gabungan akal dan hati.
    → Fokus: keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas.

  8. Mursyid
    Maknanya: pembimbing spiritual dan moral yang selalu mengajak kepada kebaikan.
    → Fokus: pembina moral dan spiritual, biasa ditemukan dalam dunia tasawuf.

  9. Muwa’idz
    Maknanya: pemberi nasihat yang menanamkan akidah dan nilai moral.
    → Fokus: pendidik yang mendidik dengan nasihat dan keteladanan seperti Luqman.

  10. Faqih
    Maknanya: ahli fikih (hukum Islam) yang memahami ajaran agama secara mendalam.
    → Fokus: penyampai ilmu hukum Islam dan pembimbing umat dalam menjalankan syariat.

  11. Mu’addib
    Maknanya: orang yang mendidik dengan akhlak dan adab.
    → Fokus: pembentuk kepribadian mulia dan guru khusus bagi calon pemimpin bangsa.

KESIMPULANNYA:

Teks ini ingin menegaskan bahwa peran guru dalam Islam sangat agung dan beragam. Guru bukan hanya penyampai ilmu, tapi juga:

  • Pembentuk karakter dan akhlak mulia (mu’addib, muzakki)

  • Pembimbing spiritual (mursyid)

  • Pengarah berpikir rasional dan berzikir (ulul albab)

  • Penjaga nilai-nilai syariat (faqih, ulama)

  • Penasehat dan role model (muwa’idz)

Mereka bukan hanya pengajar di sekolah, tapi adalah figur yang membentuk generasi saleh, cerdas, dan berakhlak mulia. Guru ideal dalam Islam adalah gabungan dari semua sifat-sifat ini.


"Pengertian Guru secara Terminologi"

1. Makna "Guru" atau "Pendidik" dalam Islam

Secara terminologi (istilah), pendidik dalam Islam tidak hanya terbatas pada profesi guru di sekolah. Melainkan, setiap orang yang bertanggung jawab atas perkembangan orang lain — terutama anak-anak — disebut sebagai pendidik.

Ini didasarkan pada pandangan bahwa pendidikan adalah:

  • Kewajiban agama (ibadah).

  • Dan tanggung jawab pribadi serta sosial setiap individu.

2. Tanggung Jawab dalam Pendidikan

Teks ini menjelaskan bahwa:

  • Setiap individu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri terlebih dahulu, yakni mendidik diri agar berakhlak baik dan beriman.

  • Setelah itu, tanggung jawab sosial muncul, yaitu mendidik orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, seperti anak-anak, keluarga, dan masyarakat.

3. Dalil dari Al-Qur'an

Tanggung jawab ini dijelaskan dalam QS. At-Tahrim: 6:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”

Ayat ini mengandung perintah tegas untuk menjaga dan mendidik diri sendiri dan keluarga dari keburukan, dosa, dan siksaan neraka, melalui pendidikan agama dan pembinaan akhlak.

4. Dalil dari Hadits Nabi

Nabi Muhammad SAW memperkuat konsep ini dalam hadits riwayat Bukhari:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya...”

Hadits ini mengandung makna mendalam bahwa:

  • Seorang pemimpin (termasuk ayah, ibu, guru, dan siapa pun) memiliki tanggung jawab moral dan spiritual atas orang-orang di bawah asuhannya.

  • Tanggung jawab itu mencakup pembinaan, pengajaran, dan keteladanan.

Kesimpulan:

Maksud utama dari teks tersebut adalah bahwa dalam pandangan Islam, setiap individu yang bertanggung jawab atas orang lain, terutama anak-anak, adalah seorang pendidik. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah atau guru formal, tapi merupakan kewajiban keagamaan yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Baik melalui dalil Qur’an maupun Hadits, dijelaskan bahwa peran mendidik adalah amanah besar yang dimiliki oleh semua orang beriman.


"Jenis Pendidik dalam Pendidikan Islam" 

Dalam pendidikan Islam, pendidik tidak hanya terbatas pada guru di sekolah. Ada beberapa jenis pendidik, yang semuanya memiliki peran penting dalam membina dan membentuk karakter serta pengetahuan manusia. Teks ini membagi pendidik menjadi empat jenis:

a) Allah Swt sebagai Pendidik

Penjelasan:

  • Allah SWT disebut sebagai pendidik karena Dia yang pertama kali mengajarkan ilmu kepada manusia, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 31, ketika Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam.

  • Sebagai Pencipta, Allah tahu seluruh kebutuhan dan potensi manusia.

  • Pendidikan dari Allah diberikan melalui wahyu dan petunjuk hidup, yang menjadi dasar ajaran Islam.

Maksudnya: Allah adalah pendidik tertinggi karena Dia sumber segala ilmu dan kebenaran. Pendidikan sejati dimulai dari bimbingan Allah.

b) Nabi Muhammad SAW sebagai Pendidik

Penjelasan:

  • Nabi Muhammad menyebut dirinya sebagai mu’allim (guru/pendidik).

  • Beliau menyampaikan wahyu dari Allah, mengajarkan syariat, akhlak, dan keteladanan dalam kehidupan.

  • Fungsi Nabi sebagai pendidik bukan hanya mengajarkan teori, tapi menjadi teladan hidup yang nyata.

Maksudnya: Nabi adalah pendidik umat manusia, yang diutus langsung oleh Allah untuk menyampaikan ilmu, akhlak, dan petunjuk hidup.

c) Guru

Penjelasan:

  • Guru adalah pendidik profesional yang mengajar di sekolah, madrasah, pesantren, atau perguruan tinggi.

  • Mereka memikul sebagian amanah pendidikan dari orang tua, dan bertanggung jawab atas perkembangan ilmu, moral, dan akhlak peserta didik.

  • Guru mencakup juga kiyai, dosen, dan pendidik lainnya di berbagai lembaga formal.

Maksudnya: Guru adalah orang yang mengambil peran besar dalam proses pendidikan formal, dengan keahlian dan tanggung jawab khusus dalam mendidik generasi.

d) Orang Tua

Penjelasan:

  • Orang tua adalah pendidik pertama dan utama, karena mereka yang pertama kali berinteraksi dan membimbing anak.

  • Pendidikan dalam keluarga membentuk dasar kepribadian anak, termasuk nilai agama, etika, dan keterampilan hidup.

  • Disebut juga sebagai pendidik qudrati, yaitu pendidik yang secara alami ditunjuk Allah untuk mendidik anak-anak mereka.

Maksudnya: Orang tua adalah pendidik alami dan permanen yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan moral anak sejak dini.

Kesimpulan:

Teks ini ingin menjelaskan bahwa dalam Islam, pendidik tidak hanya terbatas pada guru, melainkan mencakup:

  • Allah SWT (pendidik utama melalui wahyu),

  • Nabi Muhammad SAW (pendidik umat dan teladan hidup),

  • Guru (pendidik profesional),

  • dan Orang Tua (pendidik pertama dan alami).

Semua unsur ini bersinergi dalam mendidik manusia agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak.


"Keutamaan Guru" 

1. Allah Mengangkat Derajat Orang Berilmu

Dalam QS. Al-Mujadalah: 11, Allah berfirman bahwa:

"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Maksudnya: Orang berilmu (termasuk guru dan ulama) memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Mereka tidak hanya dihargai karena pengetahuan, tetapi juga karena peran penting mereka dalam membimbing manusia kepada kebenaran.

2. Orang Berilmu Disejajarkan dengan Malaikat

Dalam QS. Ali Imran: 18, Allah menyebut:

"Allah, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia."

Maksudnya: Derajat orang berilmu sangat tinggi sampai mereka disejajarkan dengan para malaikat dalam bersaksi atas keesaan Allah. Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dan para pengembannya.

3. Ulama adalah Makhluk Terbaik

QS. Al-Fatir: 28 menyatakan bahwa:

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."

Maksudnya: Ilmu yang benar membawa seseorang kepada rasa takut kepada Allah. Orang yang takut kepada Allah adalah makhluk terbaik menurut QS. Al-Bayyinah: 7–8, maka ulama termasuk sebaik-baik makhluk.

4. Ulama adalah Pewaris Para Nabi

Hadis Nabi menyatakan:

"Ulama adalah pewaris para nabi."

Maksudnya: Setelah para nabi tiada, para ulama dan guru meneruskan tugas kenabian, yaitu mengajarkan agama, membimbing umat, serta menjadi teladan kebaikan.

5. Imam Al-Ghazali tentang Kemuliaan Orang Alim

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa:

Orang alim adalah bendaharawan ilmu Allah dan perantara antara Allah dan manusia untuk membimbing ke surga.

Maksudnya: Guru dan ulama bukan hanya pengajar, tetapi juga pemegang amanah besar dalam membentuk karakter dan akidah umat.

6. Tugas Guru Sama seperti Tugas Nabi

Dalam QS. Ali Imran: 164, disebutkan bahwa Rasulullah:

  • Membacakan ayat-ayat Allah,

  • Membersihkan jiwa manusia,

  • Mengajarkan Al-Kitab dan hikmah.

Maksudnya: Guru menempati posisi yang sangat penting karena menjalankan fungsi kenabian dalam membimbing manusia.

7. Keutamaan Menuntut dan Mengajarkan Ilmu

Berbagai hadis menyebut bahwa:

  • Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.

  • Orang yang menuntut ilmu didoakan oleh seluruh makhluk, termasuk ikan di laut.

  • Pergi belajar atau mengajar setara dengan pahala ibadah haji atau salat ribuan rakaat.

  • Proses belajar dan mengajar adalah aktivitas termulia dalam Islam.

8. Nasihat Ulama Salaf

Abu Darda’ berkata:

"Jadilah orang alim, penuntut ilmu, pendengar ilmu, atau pencinta ilmu. Jangan jadi yang kelima (ahli bid’ah), nanti celaka."

Maksudnya: Dalam kehidupan ini kita harus terlibat aktif dengan ilmu—minimal mencintai ilmu. Jangan sampai jauh dari ilmu dan terjerumus dalam penyimpangan agama.

9. Taman Surga adalah Majelis Ilmu

Nabi SAW menyebut:

"Jika kalian melewati taman-taman surga, duduklah di sana." Ketika ditanya apa itu taman surga, beliau menjawab: “Majelis ilmu.”

Maksudnya: Majelis ilmu (tempat belajar) adalah tempat paling mulia di dunia dan akhirat. Maka jangan melewatkan kesempatan berada di dalamnya.

10. Peran Guru dalam Membersihkan Dosa

Umar bin Khattab menyatakan:

"Seseorang yang banyak dosa bisa menjadi bersih ketika mendengarkan nasihat dari ulama."

Maksudnya: Kehadiran ulama dan guru dapat menjadi sebab taubat dan perubahan hidup seseorang, karena ilmu mampu menggugah hati dan menuntun kepada kebenaran.

Kesimpulan Umum:

  • Guru dan ulama memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam.

  • Mereka bukan hanya pendidik, tetapi pewaris tugas kenabian.

  • Allah, malaikat, dan seluruh makhluk mendukung dan memuliakan mereka.

  • Belajar dan mengajar adalah amal paling utama.

  • Ilmu membawa seseorang menjadi sebaik-baiknya makhluk dan terhindar dari kesesatan.

"E. Tugas Guru" 

1. Guru sebagai Penerus Tugas Nabi

Tugas utama seorang guru meneladani peran para nabi, yaitu:

  • Menyampaikan wahyu/ilmu (mengajarkan ilmu dari Allah).

  • Mensucikan jiwa manusia (tazkiyatun nafs).

Dalilnya adalah firman Allah dalam QS. Ali Imran: 79, yang menegaskan bahwa:

Para nabi tidak mengajak manusia menyembah dirinya, tapi menjadikan mereka sebagai orang-orang rabbani, yaitu mereka yang dekat dengan Allah karena terus mengajarkan dan mempelajari Al-Kitab.

2. Rasulullah sebagai Model Guru Ideal

Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 129 menunjukkan tugas Rasulullah SAW:

  • Membaca ayat-ayat Allah kepada manusia.

  • Mengajarkan Al-Qur’an dan al-Hikmah (kebijaksanaan/sunnah).

  • Mensucikan manusia dari sifat-sifat buruk dan menyimpang.

Tugas ini secara langsung menjadi model tugas utama guru dalam pendidikan Islam.

3. Kesimpulan: Dua Tugas Pokok Guru

Berdasarkan ayat-ayat di atas dan pendapat para pakar pendidikan Islam, dapat disimpulkan bahwa tugas guru dalam Islam mencakup dua hal utama:

  • 1. Tugas Pengajaran (Ta’lim)
    Guru menyampaikan pengetahuan, ilmu, nilai-nilai dan pengalaman kepada peserta didik agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

  • 2. Tugas Penyucian (Tazkiyah)
    Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga membina karakter spiritual dan moral, membantu siswa menjaga fitrah, menjauh dari keburukan, serta mendekatkan diri kepada Allah.

Sumber Rujukan

  • Abdurrahman an-Nahlawi dalam Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyyah menyatakan bahwa peran guru sangat spiritual, bukan sekadar informatif.

  • Hery Noer Aly menegaskan bahwa tugas guru adalah membentuk pribadi utuh, bukan hanya kecerdasan rasional.

Kesimpulan Akhir

Maksud keseluruhan dari bagian ini adalah:

Guru dalam Islam bukan hanya pengajar, tetapi juga pembina ruhani dan moral. Mereka mewarisi tugas kenabian dalam membimbing umat melalui ilmu dan penyucian jiwa.


"F. Sifat-sifat Guru" 

1. Lemah Lembut dan Penuh Kasih Sayang

Guru harus mengajar dengan hati yang lembut dan kasih sayang, seperti orang tua terhadap anaknya. Hal ini akan menciptakan rasa nyaman dan percaya dalam diri murid, sehingga mereka lebih mudah menerima pelajaran.

Dalil:
“Sesungguhnya aku bagi kalian seperti orang tua bagi anaknya”
(HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

2. Mengajar Bukan untuk Mengejar Upah

Imam Al-Ghazali mengkritik guru yang mengajar hanya untuk mencari harta. Guru ideal meneladani para nabi yang menyampaikan ilmu bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan karena Allah.

Dalil:
“Upahku hanyalah dari Allah...”
(QS. Hud: 29)

Namun, dalam konteks sekarang, kesejahteraan guru tetap penting, karena mereka juga manusia biasa yang perlu memenuhi kebutuhan hidupnya.

3. Jujur dan Amanah dalam Mendidik

Guru harus jujur dan dapat dipercaya, serta menanamkan niat yang benar pada murid bahwa menuntut ilmu adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk pamer, mencari status, atau berdebat.

4. Menjaga Aib Murid

Guru tidak boleh menyebarkan kesalahan murid di depan umum. Bila murid melakukan kesalahan, guru menegur dengan bijak dan penuh kasih sayang, bukan dengan emosi, agar murid tidak merasa terhina dan justru memberontak.

5. Menjadi Teladan yang Baik

Guru harus menampilkan akhlak mulia, tidak saling mencela antar sesama guru dari bidang ilmu yang berbeda. Semua ilmu punya nilai masing-masing dan harus dihormati.

6. Mengajar Sesuai Kemampuan Murid

Guru perlu menyadari bahwa murid memiliki kemampuan berbeda-beda. Jangan memberikan pelajaran yang terlalu sulit melebihi daya tangkap mereka, karena bisa membuat murid merasa rendah diri atau bingung.

Dalil:
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan...”
(QS. An-Nisa: 5)

7. Paham Psikologi dan Tabiat Murid

Guru juga harus paham kejiwaan, usia, dan bakat murid. Kepada murid yang kemampuannya terbatas, hindari pembahasan rumit atau kontroversial, walaupun guru sendiri menguasainya, agar murid tidak bingung.

8. Mengamalkan Ilmu (Jadi Teladan Hidup)

Guru bukan hanya 'alim (tahu), tapi juga ‘amil (mengamalkan) ilmunya. Jangan hanya menyuruh murid berbuat baik, tapi gurunya sendiri tidak melakukannya.

Dalil:
“Mengapa kamu suruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?”
(QS. Al-Baqarah: 44)

Guru yang berilmu tapi tidak mengamalkannya akan berdosa lebih besar, karena ia tergelincir dalam keadaan tahu, bukan karena ketidaktahuan.

Kesimpulan

Sifat-sifat guru menurut Imam al-Ghazali sangat komprehensif, karena mencakup:

  • Akhlak pribadi (lemah lembut, sabar, tidak sombong)

  • Niat yang benar (mengajar karena Allah)

  • Profesionalisme (paham psikologi murid)

  • Keteladanan hidup (mengamalkan ilmu)

Maka, guru ideal dalam Islam bukan hanya pengajar, tapi juga pendidik jiwa, penuntun akhlak, dan teladan hidup.


"G. Etika Guru terhadap Dirinya Sendiri" 

1. Selalu Merasa Diawasi Allah (Muraqabah)

Guru harus merasa selalu dalam pengawasan Allah, baik saat sendiri maupun bersama orang lain, dalam gerak, ucapan, dan perbuatannya. Ini menjaga kemurnian niat dan sikap.

2. Menjaga dan Menghormati Ilmu

Guru harus menjaga ilmu seperti para ulama terdahulu, menjadikannya sebagai sesuatu yang mulia dan agung, bukan sesuatu yang bisa dijual atau diperalat.

3. Zuhud terhadap Dunia

Guru hendaknya hidup sederhana dan tidak tamak dunia. Ia boleh memenuhi kebutuhan secukupnya, tetapi tidak boleh berlebihan, agar hatinya tidak terikat pada dunia.

4. Tidak Menjadikan Ilmu sebagai Alat Duniawi

Ilmu jangan dijadikan tangga untuk mengejar kekayaan, pangkat, popularitas, atau sekadar mengalahkan orang lain. Ilmu harus digunakan untuk tujuan yang luhur.

5. Menjauhi Profesi Rendah atau Kontroversial

Guru hendaknya menjaga kehormatan profesinya, tidak terlibat dalam pekerjaan yang dipandang hina oleh masyarakat atau agama, seperti bekam dan penyamak kulit (dalam konteks sosial waktu itu).

6. Menjaga Syiar dan Hukum Islam

Guru wajib memelihara syiar-syiar Islam seperti:

  • Shalat berjamaah di masjid

  • Memberi salam

  • Amar ma’ruf nahi munkar

Ini menunjukkan bahwa guru hidup dalam kehidupan islami yang aktif.

7. Menjaga Amalan Sunnah

Guru dianjurkan rajin beribadah sunnah, seperti:

  • Tilawah Al-Qur’an

  • Berdzikir dengan hati dan lisan
    Ini menunjukkan kedekatan spiritual dengan Allah SWT.

8. Berakhlak Mulia kepada Masyarakat

Guru harus berinteraksi dengan akhlak yang baik, seperti:

  • Wajah ramah

  • Menebar salam

  • Memberi makan

  • Menahan amarah

  • Tidak menyakiti orang lain

9. Mensucikan Diri Lahir dan Batin

Guru harus membersihkan diri dari sifat tercela seperti:

  • Iri hati

  • Dengki

  • Marah tanpa sebab karena Allah
    Dan menghias diri dengan sifat terpuji, seperti:

  • Taubat

  • Ikhlas

  • Taqwa

  • Sabar

  • Husnudzon

  • Syukur

10. Semangat Meningkatkan Ilmu

Guru harus selalu giat dan tekun menuntut ilmu, baik dengan:

  • Belajar

  • Mengajar

  • Meneliti

  • Menulis

  • Menghafal

  • Memberi komentar atau kritik ilmiah

11. Rendah Hati dalam Belajar

Guru tidak boleh malu belajar dari orang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya, atau tidak terkenal. Sikap ini mencerminkan kerendahan hati dan kehausan terhadap ilmu.

12. Menulis Buku Ilmu

Jika telah memiliki keahlian dan penguasaan ilmu yang cukup, guru dianjurkan menulis, mengumpulkan, dan menyusun karya ilmiah untuk diwariskan kepada umat.

Kesimpulan

Bagian ini mengajarkan bahwa seorang guru sejati tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam kepribadian, spiritualitas, dan akhlak. Ia:

  • Menjaga kehormatan ilmunya

  • Zuhud dan ikhlas

  • Aktif ibadah dan berdzikir

  • Berakhlak mulia di tengah masyarakat

  • Terus belajar dan menulis

  • Rendah hati, tidak sombong

Jadi, etika guru terhadap dirinya sendiri adalah pondasi utama yang menjadikannya pantas dihormati dan diteladani, sebagaimana ulama-ulama besar terdahulu.

“H. Etika Guru Ketika Mengajar” 

1. Menjaga Kebersihan dan Penampilan Saat Mengajar

Sebelum mengajar, guru wajib menjaga kebersihan lahir, berwudhu, memakai pakaian rapi, sopan, dan wangi, sesuai dengan standar masyarakat. Ini dimaksudkan untuk menghormati ilmu dan syariat.

2. Membaca Doa Sebelum Keluar Rumah

Ketika hendak keluar rumah untuk mengajar, guru disunnahkan membaca doa perlindungan dari kesesatan, kedzaliman, tergelincir dalam kesalahan, dan kejahilan. Doa ini diajarkan Nabi ﷺ, menunjukkan sikap tawakal dan kehati-hatian moral.

3. Menghargai Peserta Didik

Dalam majelis ilmu, guru tidak duduk menyendiri atau menyendiri di tempat tinggi, tetapi berbaur dengan peserta dan menghormati orang yang lebih tua, lebih berilmu, atau lebih mulia.

4. Mengawali Pelajaran dengan Al-Qur’an dan Doa

Sebelum memulai pelajaran, bacalah ayat Al-Qur'an untuk mencari berkah, lalu berdoa untuk diri sendiri, murid, dan seluruh kaum muslimin. Ini menanamkan suasana spiritual dalam belajar.

5. Mengatur Prioritas Pelajaran

Jika banyak materi yang hendak disampaikan, maka mulailah dari yang paling mulia dan penting. Contohnya:

  • Tafsir Al-Qur’an

  • Hadits

  • Ushuluddin

  • Ushul Fiqih

  • Fikih madzhab

  • Perbandingan madzhab

  • Nahwu (tata bahasa Arab)

6. Mengatur Volume Suara

Guru tidak boleh berteriak atau mengeraskan suara tanpa alasan, tetapi juga tidak terlalu pelan hingga tidak terdengar. Suara harus proporsional dan efektif untuk pembelajaran.

7. Menjaga Ketertiban dan Keseriusan Majelis

Guru harus menjaga agar suasana majelis tidak gaduh, tidak ada bercanda berlebihan, dan tidak ada debat kusir. Karena kegaduhan menyebabkan kekeliruan dalam memahami ilmu.

8. Menegur Siswa yang Tidak Sopan

Jika ada murid yang:

  • Tidak sopan

  • Tidak adil dalam diskusi

  • Tidak mau menerima kebenaran

  • Berteriak tanpa manfaat

  • Menghina orang lain
    Maka guru wajib menegur dan memperingatkannya dengan bijak.

9. Bersikap Adil dan Terbuka

Guru harus objektif dalam mengajar, tidak memihak, dan memberikan ruang bagi murid untuk bertanya serta menjawab dengan baik.

10. Menyambut Tamu atau Pendatang Baru

Jika ada orang baru hadir, guru harus menyambut dengan ramah, tidak memelototi atau mengamatinya berlebihan agar ia tidak merasa malu atau canggung.

11. Mengucap “Wallahu A‘lam” di Akhir Pelajaran

Sebagai tanda tawadhu' (kerendahan hati), guru disunnahkan menutup pelajaran dengan kalimat: “Wallahu A‘lam” (Allah lebih tahu), sebagaimana dilakukan oleh para ulama dan mufti.

12. Tidak Mengajar di Luar Keahlian

Seorang guru tidak boleh mengajar pelajaran yang bukan bidangnya, atau berbicara tentang sesuatu yang tidak ia kuasai. Hal ini adalah bentuk kelalaian dalam agama dan dapat menyesatkan orang lain.

Kesimpulan Umum

Etika ini mengajarkan bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tapi adalah tugas suci yang penuh tanggung jawab moral dan spiritual. Guru harus:

  • Berpenampilan terhormat

  • Berniat lurus

  • Menciptakan majelis yang tenang dan serius

  • Menjaga adab terhadap murid dan tamu

  • Tidak asal bicara atau mengajar di luar kapasitas

Semua ini bertujuan agar ilmu yang disampaikan membawa berkah, guru menjadi panutan, dan murid tumbuh dalam akhlak dan pemahaman yang benar.

“I. Etika Guru kepada Muridnya” 

1. Mengajar karena Allah

Guru wajib ikhlas, mengajar karena Allah, bukan karena popularitas atau materi. Tujuan utamanya adalah menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat, membela kebenaran, dan menjaga umat dari keburukan.

2. Tidak Menolak Murid

Walau murid belum memiliki niat yang murni, guru tetap harus mengajarinya. Sebab niat yang baik bisa tumbuh seiring waktu dengan keberkahan ilmu yang dipelajari.

3. Menumbuhkan Semangat Cinta Ilmu

Guru harus mendorong semangat belajar, menceritakan keutamaan ilmu, serta kedudukan mulia para ulama di sisi Allah agar murid mencintai ilmu.

4. Mencintai Murid Seperti Anak Sendiri

Guru wajib menyayangi muridnya seperti menyayangi anak sendiri: memperhatikan kemaslahatan mereka, bersabar terhadap kesalahan, dan bersikap penuh kasih.

5. Menyampaikan Ilmu dengan Lemah Lembut

Gunakan penyampaian yang sederhana, tidak kaku, dan mudah dipahami. Guru juga harus bersikap ramah dan lembut dalam menyampaikan materi.

6. Menyesuaikan Materi dengan Kemampuan Murid

Guru harus bersemangat mengajar, tetapi juga bijak, tidak membebani murid di luar kemampuan mereka. Materi harus disesuaikan dengan daya pikir murid.

7. Mengadakan Evaluasi Pemahaman

Setelah mengajar, guru boleh memberi pertanyaan atau ujian ringan untuk mengetahui sejauh mana murid memahami pelajaran.

8. Mengarahkan untuk Mengulang dan Menghafal

Guru perlu mengingatkan murid untuk mengulang hafalan dan materi yang penting, serta mengadakan pengujian berkala atas hafalan mereka.

9. Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik Murid

Jika guru melihat murid terlalu memaksakan diri dalam belajar, maka guru wajib menyarankan istirahat, jangan sampai murid jatuh sakit atau stres. Juga jangan menyuruh murid mempelajari sesuatu yang tidak sesuai usia atau kemampuannya.

10. Mengajarkan Kaidah-Kaidah Ilmu

Guru harus mengajarkan kaidah dasar dalam cabang ilmu agar murid dapat memahami ilmu secara sistematis dan bisa menguasai pokok-pokok penting dalam bidang tersebut.

11. Tidak Memperlihatkan Perlakuan Istimewa

Jangan memperlihatkan sikap pilih kasih kepada murid tertentu, baik karena kepandaian atau kedekatan emosional, karena itu bisa memicu kecemburuan di antara murid.

12. Memantau Akhlak Murid

Guru wajib mengawasi perilaku dan akhlak murid, baik yang tampak (lahiriah) maupun yang tidak tampak (batiniah). Guru adalah pembina karakter, bukan sekadar pengajar.

13. Membantu Murid Secara Duniawi

Jika mampu, guru disunnahkan membantu murid secara materi, baik dengan harta atau pengaruh/jabatan, untuk kemaslahatan mereka, misalnya beasiswa, rekomendasi, dan lain-lain.

14. Bersikap Tawadhu’ (Rendah Hati)

Guru tidak boleh sombong, harus merendah kepada murid dan siapa saja yang meminta nasihat, selama orang itu menghargai hak Allah dan menghormati guru.

Kesimpulan Umum

Etika guru kepada murid ini menekankan bahwa peran guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membina hati, akhlak, dan masa depan muridnya. Guru adalah:

  • Teladan dalam akhlak

  • Penuntun dalam spiritualitas

  • Pendorong semangat belajar

  • Penjaga moral dan mental murid

Semua ini dilakukan dengan ikhlas, sabar, cinta, dan tanggung jawab di hadapan Allah. Etika ini diambil dari kitab Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PPT BAB 12 MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

MATERI KULIAH: SUMBER PENDIDIKAN ISLAM

PPT BAB 1: ILMU PENDIDIKAN ISLAM