PPT BAB 4 KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

 

A. Pengertian Kurikulum

  1. Asal Kata Kurikulum
    Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani:

    • Curir = pelari

    • Curare = tempat berpacu
      Awalnya digunakan dalam dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno. Maknanya adalah lintasan atau jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis awal (start) ke garis akhir (finish).

  2. Penggunaan dalam Dunia Pendidikan

    • Istilah kurikulum mulai digunakan dalam pendidikan sekitar tahun 1955, untuk menggambarkan sejumlah mata pelajaran di suatu lembaga pendidikan.

    • Dalam Kamus Webster tahun 1856, kurikulum diartikan sebagai:

      1. Mata pelajaran yang harus ditempuh siswa untuk mendapatkan ijazah.

      2. Mata pelajaran yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan atau jurusan.

  3. Pengertian Kurikulum Secara Umum

    • Kurikulum adalah rencana atau pedoman pengajaran.

    • Ia mencakup perencanaan dan alat bantu (media) untuk mencapai tujuan pendidikan.

    • Dengan kurikulum, arah dan kegiatan pendidikan menjadi terstruktur dan jelas.

    • Fokus utamanya adalah susunan bahan atau mata pelajaran yang menjadi acuan dalam proses pendidikan.

B. Komponen Kurikulum

Kurikulum memiliki empat komponen utama yang saling terhubung dan menjadi satu kesatuan:

  1. Tujuan: Apa yang ingin dicapai dalam proses pendidikan (misalnya, membentuk karakter siswa, meningkatkan pengetahuan, dll).

  2. Isi: Materi atau bahan ajar yang akan diajarkan.

  3. Metode atau Proses Belajar Mengajar: Cara menyampaikan materi kepada siswa (misalnya diskusi, ceramah, praktik).

  4. Evaluasi: Cara menilai sejauh mana tujuan pendidikan sudah tercapai.

Secara ringkas, kurikulum adalah peta jalan pendidikan: berisi tujuan, materi, cara mengajarkan, dan bagaimana mengevaluasinya. Awalnya berasal dari istilah olahraga, kini menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan untuk mengarahkan dan menilai proses belajar-mengajar secara menyeluruh.

C. Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam

  1. Istilah dalam Islam Klasik

    • Dahulu, para ulama atau pakar pendidikan Islam klasik menggunakan istilah "al-maddah" untuk menyebut kurikulum.

    • Al-maddah berarti materi pelajaran, karena pada masa itu kurikulum dipahami hanya sebagai kumpulan mata pelajaran yang harus diajarkan pada tingkat tertentu.

  2. Perkembangan Makna Kurikulum

    • Seiring waktu, pemahaman tentang kurikulum semakin luas dan modern.

    • Tidak hanya mencakup pelajaran, tapi juga tujuan pendidikan, proses belajar-mengajar, dan evaluasi.

    • Kurikulum juga mencakup seluruh aspek yang mempengaruhi pembentukan kepribadian siswa — bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan sikap.

  3. Istilah Modern: Manhaj

    • Dalam pendidikan Islam modern, kurikulum dikenal juga dengan istilah "manhaj", yang berarti "jalan terang".

    • Maknanya: jalan yang ditempuh oleh guru dan siswa untuk mengembangkan:

      • Ilmu pengetahuan

      • Keterampilan

      • Sikap dan nilai-nilai keislaman

  4. Kesimpulan Hakikat Kurikulum Pendidikan Islam

    • Kurikulum pendidikan Islam adalah:
      Seluruh aktivitas, pengetahuan, dan pengalaman yang secara sadar dan sistematis dirancang serta diberikan oleh guru kepada siswa untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.

    • Jadi, bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga meliputi segala kegiatan yang mendidik secara menyeluruh — baik secara akal, jasmani, maupun rohani.

Kesimpulan :

Kurikulum pendidikan Islam adalah jalan atau proses menyeluruh yang dirancang untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang berilmu, terampil, dan berakhlak mulia sesuai ajaran Islam — melalui materi, pengalaman, dan kegiatan yang sistematis dan terencana.

D. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam dan Maknanya

  1. Prinsip Berorientasi pada Tujuan
    Kurikulum harus dirancang dengan tujuan yang jelas, agar semua kegiatan pendidikan bisa mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan Islam.

  2. Prinsip Relevansi
    Kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan zaman dan kondisi nyata masyarakat, agar apa yang diajarkan tetap bermakna dan kontekstual.

  3. Prinsip Efisiensi dan Efektivitas
    Kurikulum harus menggunakan waktu, tenaga, biaya, dan sumber daya lain secara bijak agar hasil maksimal tercapai.
    Didukung ayat:

    • QS. Al-‘Ashr: 1 (Demi masa): Pentingnya menghargai waktu.

    • QS. An-Najm: 39-40: Hasil diperoleh dari usaha sungguh-sungguh.

    • QS. Al-Isra: 26-27: Larangan bersikap boros karena itu termasuk perbuatan syaitan.

  4. Prinsip Fleksibilitas Program
    Kurikulum harus luwes dan dapat disesuaikan dengan kondisi lokal, waktu, dan kebutuhan tanpa kehilangan arah tujuan pendidikan Islam.

  5. Prinsip Integritas
    Kurikulum harus mencakup pengembangan seluruh aspek manusia: akal, hati, jasmani, sosial, dan spiritual—menuju manusia yang utuh.

  6. Prinsip Kontinuitas (Keberlanjutan)
    Kurikulum disusun agar terus berkesinambungan, dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, atau dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.

  7. Prinsip Sinkronisme (Keselarasan)
    Semua bagian dalam kurikulum harus selaras dan tidak bertentangan. Jangan sampai ada bagian yang saling meniadakan atau menghambat.

  8. Prinsip Objektivitas
    Kurikulum harus berdasarkan pada kebenaran ilmiah dan rasional, bukan karena emosi, tekanan, atau kepentingan tertentu.
    Didukung ayat:

    • QS. Al-Maidah: 8: Seruan untuk berlaku adil, bahkan kepada musuh, karena adil adalah bagian dari takwa.

  9. Prinsip Demokratis
    Kurikulum harus melibatkan semua pihak secara adil dan terbuka, baik guru, siswa, orang tua, dan masyarakat, serta memahami perbedaan.

  10. Prinsip Analisis Kegiatan
    Kurikulum harus didasarkan pada analisis yang mendalam terhadap isi pelajaran dan tingkah laku peserta didik yang ingin dibentuk.

  11. Prinsip Individualisasi
    Kurikulum harus memperhatikan perbedaan individu siswa, seperti kecerdasan, minat, bakat, kondisi fisik, dan karakter agar proses belajar lebih efektif.

  12. Prinsip Pendidikan Sepanjang Hayat
    Pendidikan tidak berhenti di sekolah. Kurikulum harus mendorong semangat belajar terus-menerus sepanjang hidup, karena manusia terus berkembang dan membutuhkan panduan nilai serta ilmu dalam hidupnya.

Kesimpulan 

Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam adalah pedoman penting agar kurikulum yang dibuat:

  • Berorientasi pada tujuan pendidikan Islam

  • Relevan dengan kebutuhan zaman

  • Efisien, adil, fleksibel, dan berkelanjutan

  • Memperhatikan perbedaan individu

  • Mendorong pembelajaran seumur hidup

Semua prinsip ini berpijak pada ajaran Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam, untuk menghasilkan manusia yang utuh secara jasmani, akal, dan ruhani.

E. Isi Kurikulum Pendidikan Islam

Ayat Fushshilat: 53 dijadikan dasar bahwa Allah akan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam dan dalam diri manusia, sehingga manusia menyadari bahwa kebenaran itu dari Allah. Dari ayat ini, dikembangkan tiga fokus isi kurikulum pendidikan Islam, yaitu:

1. Isi Kurikulum Berorientasi pada Ketuhanan

Isi kurikulum ini berkaitan langsung dengan ajaran dan pemahaman tentang Allah, yaitu:

  • Zat Allah (siapa Allah itu),

  • Sifat-sifat-Nya (seperti Maha Pengasih, Maha Mengetahui),

  • Perbuatan-Nya (ciptaan, pengaturan alam),

  • Hubungan Allah dengan manusia dan alam semesta.

Ilmu yang termasuk di dalamnya:

  • Ilmu kalam (teologi),

  • Tasawuf (akhlak),

  • Ilmu fikih (hukum Islam),

  • Ilmu tafsir, hadis, ushul fiqih, linguistik al-Qur’an, dsb.

Dasarnya: wahyu Allah (al-Qur'an dan Sunnah).

2. Isi Kurikulum Berorientasi pada Kemanusiaan

Maknanya:
Isi ini berkaitan dengan manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, berbudaya, dan berakal. Jadi, mencakup aspek kehidupan manusia dalam berbagai bentuk.

Ilmu yang termasuk:

  • Politik, ekonomi, budaya, sejarah, filsafat, pendidikan, psikologi,

  • Ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi,

  • Ilmu eksakta yang berkaitan dengan manusia seperti kedokteran, komunikasi, dsb.

Dasarnya: ayat-ayat anfusi (tanda-tanda kekuasaan Allah dalam diri manusia).

3. Isi Kurikulum Berorientasi pada Kealaman

Isi ini menekankan pada fenomena alam dan hubungan manusia dengan alam. Manusia sebagai khalifah di bumi harus mampu mengelola dan memanfaatkan alam dengan bijak.

Ilmu yang termasuk:

  • Ilmu alam: fisika, kimia, biologi, astronomi,

  • Ilmu terapan: pertanian, farmasi, geologi, zoologi, dsb.

Dasarnya: ayat-ayat afaqi (tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta).

Penyajian Kurikulum: Pendekatan Terpadu (Integrated Approach)

Ketiga isi kurikulum (ketuhanan, kemanusiaan, kealaman) tidak dipisah-pisahkan, tapi disajikan secara terintegrasi. Misalnya:

  • Ketika membahas sifat-sifat Allah (seperti ar-Rahman dan ar-Rahim), juga dibahas bagaimana manusia seharusnya berperilaku penuh kasih kepada sesama dan kepada alam.

  • Ilmu tentang Tuhan harus mempengaruhi etika manusia dan cara manusia mengelola alam.

Kesimpulan:

Isi kurikulum pendidikan Islam bersifat komprehensif, mencakup hubungan manusia dengan:

  1. Tuhan (hablun minallah),

  2. Sesama manusia (hablun minannas),

  3. Alam (hablun minal ‘alam).

Kurikulum ini tidak memisahkan agama dan ilmu, tetapi justru menyatukan keduanya dalam kerangka tauhid dan tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi.

F. Sistem Penjenjangan Kurikulum Pendidikan Islam

Sistem penjenjangan kurikulum berarti penyusunan isi dan kedalaman materi pelajaran yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta didik. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin dalam dan luas materi yang diajarkan.

Rinciannya:

a. Tingkat Dasar (Ibtidaiyah)

  • Fokus: Memberikan dasar-dasar ajaran Islam.

  • Materi: Pokok-pokok seperti:

    • Akidah: Rukun iman (percaya kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, qada dan qadar),

    • Syariah: Rukun Islam (syahadat, salat, puasa, zakat, haji),

    • Akhlak: Rukun ihsan (berbuat baik karena merasa diawasi Allah).

  • Tujuan: Menanamkan pemahaman dasar yang mudah dimengerti anak-anak.

b. Tingkat Menengah Pertama (Tsanawiyah)

  • Fokus: Melanjutkan materi tingkat dasar, dengan penambahan dalil-dalil.

  • Materi tambahan:

    • Dalil naqli: Berdasarkan teks al-Qur’an dan Hadis.

    • Dalil aqli: Berdasarkan akal/logika.

  • Tujuan: Agar siswa mulai memahami alasan dan dasar hukum dari ajaran Islam, bukan sekadar hafalan.

c. Tingkat Menengah Atas (Aliyah)

  • Fokus: Materi lebih dalam lagi, dengan penekanan pada hikmah dan manfaat dari ajaran Islam.

  • Materi tambahan:

    • Penjelasan tujuan, rahasia, dan hikmah dari perintah dan larangan dalam Islam.

    • Contoh: Mengapa salat penting? Apa manfaat puasa untuk jiwa dan kesehatan?

  • Tujuan: Mengembangkan pemahaman mendalam dan kesadaran filosofis terhadap ajaran agama.

d. Tingkat Perguruan Tinggi (Jami’iyah)

  • Fokus: Pembelajaran pada tingkat ilmiah dan filosofis.

  • Materi tambahan:

    • Pendekatan analisis, penelitian, kajian perbandingan,

    • Kajian filsafat Islam, logika, metodologi ilmiah, ushul fiqih lanjutan, tafsir tematik, dsb.

  • Tujuan: Menghasilkan ilmuwan muslim, pemikir Islam, dan tenaga pendidik yang mampu menjelaskan Islam secara rasional, mendalam dan sistematis.

Kesimpulan:

Penjenjangan kurikulum pendidikan Islam tidak diberikan secara seragam di semua jenjang, tetapi bertahap dan bertingkat:

  • Dari dasar-dasar ajaran,

  • Ke dalil-dalil dan logika,

  • Ke hikmah dan makna,

  • Hingga ke kajian ilmiah dan filosofis.

Sistem ini mencerminkan bahwa pendidikan Islam bersifat bertahap (tadarruj) dan berkembang sesuai usia dan daya nalar peserta didik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PPT BAB 12 MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

MATERI KULIAH: SUMBER PENDIDIKAN ISLAM

PPT BAB 1: ILMU PENDIDIKAN ISLAM