PPT BAB 5 METODE PENDIDIKAN ISLAM
BAB 5: METODE PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Metode
Bagian ini menjelaskan asal-usul dan makna kata "metode":
Secara etimologis (asal katanya):
Dari bahasa Yunani:
Meta = melalui
Hodos = jalan
→ Jadi metode artinya: cara atau jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.Dalam bahasa Arab: al-thariq = jalan.
Dalam bahasa Inggris: method = cara.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):
Metode adalah cara teratur dan sistematis yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan atau kegiatan agar hasilnya sesuai dengan tujuan.
Metode adalah cara yang terencana dan teratur untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
B. Pengertian Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan Islam adalah Segala cara atau pendekatan yang digunakan untuk memudahkan proses pendidikan agar tujuan pendidikan Islam dapat tercapai.
Contoh: Mengajar anak membaca al-Qur’an dengan metode iqra’, mengajarkan akhlak melalui keteladanan (uswah), mengajarkan sejarah Islam melalui cerita (kisah), dll.
C. Fungsi Metode Pendidikan Islam
Bagian ini menjelaskan peran atau manfaat dari metode dalam pendidikan Islam.
Fungsi utamanya adalah:
Memberi inspirasi dan kemudahan dalam belajar bagi siswa.
Membangun hubungan yang baik antara pendidik dan peserta didik.
Memastikan tujuan pendidikan Islam tercapai dengan efektif.
Metode dalam pendidikan Islam bukan sekadar alat teknis, tetapi merupakan media komunikasi dan pendekatan ruhani antara guru dan murid, agar pembelajaran berjalan harmonis, efektif, dan penuh makna.
D. Perbedaan antara Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, Model dan Desain Pembelajaran
Membedakan tujuh istilah penting dalam dunia pendidikan—khususnya dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran—yang sering terdengar mirip, tetapi memiliki peran, tingkat, dan fungsi yang berbeda.
1. Pendekatan Pembelajaran
Apa itu?
Cara pandang atau filosofi dasar tentang bagaimana proses belajar itu terjadi.Sifatnya?
Sangat umum dan menyeluruh, menjadi dasar dari semua strategi dan metode.Contoh:
Pendekatan berpusat pada siswa (student-centered)
Pendekatan berpusat pada guru (teacher-centered)
2. Strategi Pembelajaran
Apa itu?
Rencana besar (konseptual) untuk mencapai tujuan pembelajaran.Sifatnya?
Sudah lebih konkret dari pendekatan, tapi masih dalam tataran perencanaan.Isinya:
Tujuan pembelajaran
Ukuran keberhasilan pembelajaran
3. Metode Pembelajaran
Apa itu?
Cara atau langkah-langkah praktis yang digunakan untuk melaksanakan strategi pembelajaran.Contoh:
Ceramah
Diskusi
Tanya jawab
Demonstrasi
4. Teknik Pembelajaran
Apa itu?
Cara spesifik atau teknis dalam menggunakan metode tertentu sesuai situasi.Sifatnya?
Lebih rinci dan menyesuaikan kondisi kelas.Contoh:
Teknik bertanya pada siswa pasif vs. aktif
Teknik ceramah pada kelas besar vs. kecil
5. Taktik Pembelajaran
Apa itu?
Gaya pribadi guru dalam menyampaikan pelajaran, meskipun menggunakan metode dan teknik yang sama.Sifatnya?
Individual, bergantung pada kepribadian, keahlian, dan pengalaman guru.Contoh:
Dua guru sama-sama ceramah, tapi yang satu banyak humor, yang lain banyak pakai multimedia.
6. Model Pembelajaran
Apa itu?
Gabungan atau paket lengkap dari pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik.Sifatnya?
Terstruktur dari awal hingga akhir pembelajaran.Contoh model:
Model pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran berbasis proyek
Model inquiry learning
7. Desain Pembelajaran
Apa itu?
Rencana teknis dan sistematis tentang bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan setelah strategi ditentukan.Ibarat:
Seperti blueprint atau cetak biru rumah, berisi bahan, langkah, urutan kegiatan, dan evaluasinya.Berbeda dengan strategi:
Strategi bicara jenis rumah yang akan dibangun.
Desain bicara detail langkah dan bahan membangunnya.
Untuk menjadi guru profesional, harus bisa memahami dan menerapkan:
Pendekatan → landasan atau sudut pandang
Strategi → rencana besar
Metode → cara pelaksanaan
Teknik → cara khusus dalam menggunakan metode
Taktik → gaya pribadi guru
Model → keseluruhan paket pembelajaran
Desain → perencanaan teknis dan detail pelaksanaan pembelajaran
E. Kedudukan Metode Pendidikan
Metode pendidikan atau metode pengajaran adalah alat utama bagi guru untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa secara efektif, efisien, dan terukur. Artinya, keberhasilan dalam pembelajaran sangat tergantung pada metode yang digunakan.
1. Metode = Alat Motivasi Ekstrinsik
Metode bisa menumbuhkan semangat belajar siswa karena bersifat menarik dan sesuai kebutuhan mereka.
Misalnya, jika metode yang digunakan menyenangkan dan bervariasi, siswa lebih termotivasi untuk belajar.
Metode yang membosankan bisa membuat siswa malas dan hasil belajar jadi rendah.
2. Metode = Strategi Pengajaran
Siswa memiliki gaya dan kecepatan belajar yang berbeda-beda.
Dengan metode yang tepat, guru bisa menyesuaikan cara mengajar sesuai dengan karakteristik siswa (ada yang suka diskusi, ada yang suka mendengar cerita, dsb).
Jadi, metode digunakan sebagai strategi agar semua siswa bisa belajar secara optimal.
3. Metode = Alat untuk Mencapai Tujuan
Dalam mengajar, guru punya tujuan tertentu yang harus dicapai (misalnya siswa memahami konsep, bisa menghafal, atau bisa menerapkan suatu keterampilan).
Metode digunakan sebagai jalan atau alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Tanpa metode yang tepat, tujuan pembelajaran sulit dicapai.
Contoh Nyata
Perbandingan antara pesantren salafiyah dan pesantren modern menggambarkan bahwa:
Pesantren salafiyah fokus pada menghafal dan memahami gramatika, sehingga menghasilkan siswa yang kuat dalam membaca kitab.
Pesantren modern fokus pada latihan praktik komunikasi, sehingga siswanya lebih bisa berbicara dalam bahasa Arab.
Ini menunjukkan bahwa perbedaan metode menghasilkan kemampuan akhir yang berbeda pula.
Seorang guru yang profesional harus menguasai berbagai metode pengajaran agar:
Bisa memotivasi siswa
Bisa memilih strategi yang tepat
Bisa mencapai tujuan pembelajaran dengan baik
Guru juga tidak boleh terpaku pada satu metode saja, karena tiap metode punya kelebihan dan kekurangan. Menggabungkan beberapa metode secara tepat akan membuat proses belajar lebih hidup, menyenangkan, dan berhasil.
F. Pendekatan Metode Pendidikan Islam
Lima pendekatan penting dalam pendidikan Islam yang diambil dari Surah Al-Baqarah ayat 151. Ayat tersebut menggambarkan peran Nabi Muhammad SAW dalam mendidik umat, dan dari situ dirumuskan pendekatan-pendekatan yang menjadi dasar pendidikan Islam.
"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 151)
Ayat ini menyebut 5 peran Nabi Muhammad SAW, yang kemudian menjadi dasar 5 pendekatan pendidikan Islam.
1. Pendekatan Tilawah (Pengajaran Ayat-Ayat Allah)
Maknanya: Membacakan dan mengenalkan ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (Al-Qur’an) maupun yang tersebar di alam (ayat kauniyah).
Tujuan: Menumbuhkan kesadaran akan keindahan dan keteraturan ciptaan Allah.
Aplikasi: Diskusi ilmiah, penelitian, seminar, kelompok studi – yang bertujuan memahami alam sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.
2. Pendekatan Tazkiyah (Penyucian Jiwa dan Akhlak)
Maknanya: Membersihkan hati dan jiwa dari sifat buruk serta menumbuhkan akhlak mulia.
Tujuan: Membentuk pribadi yang bersih secara rohani dan sosial.
Aplikasi: Amar ma’ruf nahi munkar, kegiatan dakwah, ceramah, gerakan kebersihan, latihan ibadah (riiyadhah ruhaniyah), dan syiar Islam.
3. Pendekatan Ta’lim Al-Kitab (Pengajaran Al-Qur’an secara Tekstual dan Kontekstual)
Maknanya: Mengajarkan isi dan kandungan Al-Qur’an, bukan hanya membaca, tetapi juga memahami makna.
Tujuan: Meningkatkan pemahaman terhadap petunjuk Allah.
Aplikasi: Diskusi tafsir, membaca literatur Islam, bimbingan guru/ustadz, dan kegiatan lomba-lomba Islami yang kreatif.
4. Pendekatan Ta’lim Al-Hikmah (Pengajaran Hikmah/Kebijaksanaan)
Maknanya: Mengajarkan nilai-nilai bijaksana, mendalam, dan reflektif dari ajaran Islam.
Tujuan: Membentuk pola pikir yang bijak, kritis, dan reflektif.
Aplikasi: Kajian mendalam antar lembaga pendidikan, studi perbandingan sistem pendidikan, hingga pembentukan konsensus nilai bersama dalam masyarakat Islam.
5. Pendekatan Yu’allimukum Ma Lam Takunu Ta’lamun (Mengajarkan Hal-Hal Baru yang Belum Diketahui)
Maknanya: Mendorong eksplorasi terhadap ilmu baru dan penemuan.
Tujuan: Mengembangkan inovasi dan kreativitas.
Aplikasi: Riset dan pengembangan teknologi yang bermanfaat, inovasi pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Kelima pendekatan ini berasal dari Al-Qur’an dan mencakup seluruh aspek pendidikan:
Ilmiah (tilawah)
Spiritual (tazkiyah)
Religius (ta’lim al-kitab)
Filosofis dan bijak (ta’lim al-hikmah)
Inovatif dan kreatif (ma lam takunu ta’lamun)
Dengan memahami pendekatan ini, seorang pendidik Islam dapat merancang sistem pendidikan yang utuh dan menyeluruh, yang mencerdaskan, menyehatkan jiwa, dan menuntun ke arah kehidupan yang bermakna.
G. Bentuk-bentuk Metode Pendidikan Islam
Digunakan untuk menyampaikan materi ajaran Islam secara efektif dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
a. Metode Diakronis (Sosiohistoris)
Makna:
Ini adalah metode yang menggunakan pendekatan sejarah untuk memahami ajaran Islam.
Melihat suatu ajaran, kepercayaan, atau peristiwa Islam dalam konteks waktu, tempat, budaya, dan lingkungan sosial saat ajaran itu muncul.
Tujuannya agar siswa memahami perkembangan ajaran Islam secara kronologis dan kaitannya dengan konteks masyarakat saat itu.
Implikasi:
Siswa tidak hanya tahu isi ajaran Islam, tapi juga paham mengapa ajaran itu muncul, apa latar belakangnya, dan apa dampaknya pada kehidupan sosial.
Cocok untuk pengembangan kognitif, terutama pengetahuan sejarah Islam.
b. Metode Sinkronis-Analitis
Makna:
Ini metode yang lebih teoretis dan analitis, digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan intelektual.
Tidak hanya berfokus pada praktik, tapi pada pemahaman dan analisis mendalam terhadap nilai-nilai Islam saat ini.
Teknik Pengajaran:
Diskusi, seminar, kerja kelompok, resensi buku, dan lomba karya ilmiah.
Asumsi Dasar:
Metode ini berdiri di atas prinsip-prinsip penting dalam Islam, seperti:
Islam adalah wahyu, bukan budaya.
Islam sebagai agama sempurna.
Islam sebagai suprasistem (punya sistem, subsistem, dan komponen ajaran).
Dakwah sebagai kewajiban.
Pentingnya hikmah dan metode bijak dalam menyampaikan ajaran.
Kewajiban menyampaikan ilmu, walau hanya satu ayat.
Sebagian umat Islam wajib memperdalam agama dan mengajarkan kepada umat.
c. Metode Problem Solving (Ḥill al-Musykilāt)
Makna:
Ini adalah metode pendidikan yang berbasis pada masalah nyata yang dihadapi siswa.
Siswa diajak untuk menganalisis, membandingkan, dan mencari solusi dari suatu masalah berdasarkan prinsip-prinsip Islam.
Langkah-langkah Umum:
Identifikasi masalah dengan jelas.
Pengumpulan data (membaca, diskusi, penelitian, dll.).
Menentukan hipotesis/jawaban sementara.
(Kelanjutannya belum ditampilkan, tapi biasanya termasuk: menguji solusi dan menyimpulkan).
Tujuan:
Melatih siswa untuk menjadi problem solver yang berpikir aktif dan bertanggung jawab terhadap solusi yang mereka ambil.
Kesimpulan :
Ketiga metode di atas mencerminkan pendekatan integratif dalam pendidikan Islam:
Diakronis: Historis-kontekstual.
Sinkronis-analitis: Kritis-teoretis.
Problem solving: Praktis-reflektif.
d. Metode Empiris (Tajribiyah)
Maksudnya:
Ini adalah metode pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Siswa tidak hanya belajar teori tentang ajaran Islam, tetapi juga mengalami dan mempraktikkan ajaran tersebut dalam kehidupan nyata—misalnya dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam pergaulan sosial, kegiatan di sekolah, dan dalam masyarakat.
Contoh: Siswa diajak mengamalkan nilai kejujuran, gotong royong, atau adab Islami dalam kegiatan sehari-hari di kelas atau luar kelas.
Tujuannya:
Agar siswa:
Tidak hanya tahu secara teori, tetapi juga menginternalisasi (memasukkan dalam hati) nilai-nilai Islam.
Mampu berinovasi secara sosial dengan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, dan bahkan mungkin mengembangkan norma-norma baru yang sesuai nilai Islam di lingkungannya.
Ciri utamanya:
Ada interaksi sosial.
Nilai Islam dihidupkan, bukan hanya dipelajari.
Proses ini berulang dan semakin berkembang seperti lingkaran yang terus membesar (tajdid: pembaruan).
Landasan filosofisnya (5 poin utama):
Islam menjelaskan tentang baik-buruk (amar ma'ruf nahi munkar – QS. Ali Imran: 104).
Tujuan hidup adalah ridha Allah (QS. Al-Fath: 29).
Islam sebagai pedoman hidup dunia-akhirat (QS. Asy-Syura: 13).
Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan (QS. At-Taubah: 122).
Kebenaran Islam bisa diuji melalui pengalaman (empiris) dan penghayatan batiniah (intuitif) (QS. Fushilat: 53).
e. Metode Induktif (Istiqraiyah)
Maksudnya:
Metode ini dimulai dari kasus-kasus atau contoh-contoh khusus, kemudian ditarik kesimpulan umum.
Contoh: Siswa diajarkan beberapa kisah orang jujur dari sejarah Islam, lalu dari berbagai contoh itu disimpulkan bahwa "kejujuran adalah nilai utama dalam Islam."
Tahapan pelaksanaannya:
Guru menjelaskan atau menyajikan tema/topik umum.
Mengaitkan pokok-pokok pikiran agar pembahasan tetap fokus.
Mengidentifikasi dan menyusun unsur-unsur masalah.
Menerapkan kesimpulan umum tersebut dalam bentuk formula atau aturan baru.
Tujuannya:
Agar siswa mampu menarik kesimpulan secara mandiri berdasarkan pengalaman atau data yang ada.
f. Metode Deduktif
Maksudnya:
Metode ini berkebalikan dari induktif: dimulai dari kaidah atau prinsip umum, kemudian diberikan contoh-contoh khusus agar lebih mudah dipahami.
Contoh: Guru menyampaikan prinsip umum "Shalat wajib lima waktu adalah tiang agama", kemudian memberikan contoh rincian seperti shalat Subuh, Dzuhur, dll., serta contoh manfaat shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Keuntungannya:
Membantu siswa memahami konsep besar dengan melihat aplikasinya dalam hal-hal kecil.
Menolong siswa menyusun dan membandingkan informasi yang berserakan untuk menemukan benang merahnya.
Kesimpulan
H. Teknik Pendidikan Islam
Teknik adalah cara praktis untuk menerapkan metode pendidikan Islam dalam proses pembelajaran.
Teknik muhadharah (pertemuan)
Teknik Ceramah (Mau’izhah)
Ceramah adalah teknik penyampaian materi secara lisan oleh guru kepada siswa.
Kelebihan dan Fungsi Ceramah:
Cocok digunakan untuk:
Menjelaskan topik baru
Menggambarkan materi secara umum
Memberi motivasi belajar
Memberikan penjelasan yang tidak ada dalam buku siswa
Mengajar siswa dalam jumlah besar
Kekurangan Ceramah:
Komunikasi satu arah
Mudah membosankan jika tidak disampaikan dengan baik
Tips Agar Ceramah Efektif
Waktu singkat, idealnya < 30 menit
Rencana ceramah ringkas agar tidak bingung
Gunakan pertanyaan di tengah/akhir ceramah
Berikan contoh nyata dan humor sehat
Gunakan suara nyaring, antusias, dan tempo bicara rendah
Gunakan bahasa umum dan kalimat sederhana
Standar Bahasa Ceramah Menurut al-Qur’an
Agar ceramah menjadi mendidik dan menyentuh hati, harus menggunakan bahasa yang Qur’ani:
Bagian ini menegaskan bahwa:
Teknik ceramah adalah salah satu teknik penting dalam pendidikan Islam, tapi harus disampaikan dengan baik dan tepat.
Ceramah yang baik bukan hanya jelas secara isi, tapi juga memiliki adab dan etika bahasa sesuai tuntunan al-Qur’an.
Guru sebagai pendidik harus memperhatikan etika komunikasi Qur’ani agar pesan yang disampaikan berkesan dan menginspirasi murid.
b. Teknik Kitabah (Tulisan)
Maksudnya:
Teknik kitabah adalah teknik mengajar melalui media tulisan seperti buku, modul, brosur, atau catatan. Ini bisa digunakan sebagai pengganti kehadiran langsung guru, atau pelengkap dari ceramah lisan guru.
Kelebihan:
Bisa dibaca berulang-ulang
Bersifat tahan lama dan mendalam
Fleksibel waktu dan tempat
Kelemahan:
Tidak semua siswa suka membaca
Sebagian lebih suka belajar dengan mendengar atau berdiskusi
2. Teknik Hiwar (Dialog)
Teknik hiwar adalah teknik pembelajaran yang menggunakan dialog antara guru dan siswa. Tujuannya adalah membangun komunikasi dua arah untuk menemukan kebenaran bersama melalui proses bertanya dan menjawab.
Prinsip penting dalam dialog:
Tidak memihak, adil
Setiap pendapat harus punya argumen kuat
Harus ada komunikasi dua arah yang aktif
Teknik Asilah wa Ajwibah (Tanya Jawab)
Salah satu bentuk dari dialog, yaitu guru bertanya – siswa menjawab (atau sebaliknya). Digunakan untuk:
Mengecek pemahaman siswa
Memberi motivasi
Membangun keberanian bertanya
Mengulang dan memperkuat pelajaran
Jenis pertanyaan menurut waktu:
Awal pelajaran → untuk menarik minat
Tengah pelajaran → untuk menggali pemahaman
Akhir pelajaran → untuk merangkum dan menyimpulkan
Jenis pertanyaan menurut tujuan:
Ingatan → fakta: siapa, apa, kapan, di mana
Pikiran → analisis: mengapa, bagaimana
Hal yang harus diperhatikan guru saat tanya jawab:
Rumuskan pertanyaan secara jelas dan singkat
Ajukan dulu pertanyaan, baru tunjuk siswa
Hargai semua jawaban
Beri kesempatan berpikir
Sebarkan pertanyaan merata
Buat ringkasan hasil diskusi
Contoh dari Al-Qur’an dan Hadis:
QS. An-Nahl: 43 → "Tanyakanlah kepada ahli dzikir"
QS. Al-A’raf: 172 → Pertanyaan Allah kepada ruh manusia
Hadis Jibril → pertanyaan tentang iman, Islam, ihsan
Teknik Niqasy (Diskusi)
Teknik niqasy adalah teknik pembelajaran yang melibatkan siswa untuk berdiskusi memecahkan masalah bersama. Fokusnya adalah pada interaksi, pertukaran pendapat, dan kerja sama untuk menemukan solusi/kesimpulan.
Keunggulan diskusi:
Meningkatkan pemahaman dan keterampilan berpikir
Lebih interaktif dibanding ceramah
Kelemahannya:
Lambat dalam penyampaian materi baru dibanding ceramah
Kurang cocok untuk penguasaan informasi dalam jumlah besar
Jenis diskusi berdasarkan pesertanya:
Kelompok kecil → diskusi kelas, debat, reaksi lingkaran
Kelompok besar → diskusi massa/interaksi terbuka
Bentuk-bentuk diskusi:
Whole Group: diskusi kelas dengan guru sebagai moderator
Buzz Group: diskusi kelompok kecil di tengah/akhir pelajaran
Panel: diskusi informal di hadapan audiens
Simposium: diskusi formal dengan makalah, moderator, notulen
Teknik Mujadalah (Debat)
Teknik mujadalah adalah metode dialog atau debat yang digunakan ketika berhadapan dengan peserta didik atau audiens yang memiliki perbedaan pandangan, seperti:
Perbedaan agama
Perbedaan ideologi
Perbedaan cara berpikir atau filsafat hidup
Walau mirip dengan diskusi, mujadalah bersifat lebih konfrontatif, karena tujuannya adalah meyakinkan bahkan mematahkan argumen lawan agar mengikuti pandangan yang dianggap benar. Oleh karena itu, metode ini sering kali terkesan saling menjatuhkan atau mempertahankan pendapat pribadi secara kuat.
Landasan Al-Qur'an (An-Nahl: 125)
Allah SWT memerintahkan:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik."
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini memberi arahan tiga pendekatan dakwah dan pembelajaran yang digunakan sesuai dengan karakter peserta:
a) Orang yang tahu dan mengamalkan kebenaran
Tidak perlu dinasihati lagi.
Diberi pelajaran dengan pendekatan filosofis dan intelektual.
Mereka adalah orang-orang berilmu: ulil albab, ulin nuha.
b) Orang yang tahu kebenaran tapi tidak mengamalkannya
Mereka perlu nasihat (maw’izhah) dan pendekatan psikologis dan edukatif.
Tujuannya agar mereka tersentuh dan mau mengamalkannya.
c) Orang yang menolak kebenaran, baik tahu atau tidak
Perlu didebat atau dijelaskan dengan argumentasi rasional dan objektif (jidal).
Harus ilmiah, tidak emosional, dan tidak merendahkan agar bisa kembali ke jalan yang baik.
Maksud utama dari penjelasan tersebut adalah:
Teknik mujadalah digunakan sebagai cara terakhir untuk menyadarkan orang yang menolak kebenaran, dengan pendekatan ilmiah dan argumentatif. Tapi, harus dilakukan dengan cara yang santun dan tidak emosional, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an.
Teknik Brainstorming
Brainstorming (sumbang saran) adalah teknik pembelajaran yang dilakukan dengan:
Guru melemparkan pertanyaan atau masalah ke kelas.
Siswa diminta untuk menjawab, mengemukakan pendapat, atau berkomentar.
Proses ini memungkinkan munculnya banyak ide, bahkan bisa berkembang menjadi masalah-masalah baru.
Tujuan utamanya adalah:
Menggali semua pengetahuan, ide, dan pendapat yang dimiliki siswa dalam waktu singkat.
Keunggulan Teknik Brainstorming
Melatih siswa berpikir aktif dan cepat.
Membuka ruang kebebasan berpendapat.
Menciptakan suasana demokratis di kelas.
Memicu semangat belajar dan kompetisi sehat.
Mendorong siswa yang pasif/kurang aktif untuk ikut berpartisipasi.
Kelemahan Teknik Brainstorming
Tidak semua siswa mendapat waktu yang cukup untuk berpikir.
Jawaban dan pendapat siswa tidak langsung dikoreksi (benar/salah).
Bisa terjadi dominasi siswa pintar atas siswa lainnya.
Guru kadang kesulitan menyimpulkan diskusi.
Masalah bisa berkembang ke arah yang tidak sesuai harapan.
Jika guru tidak pandai mengelola, kelas bisa kacau dan tidak terarah.
Penerapan dalam Pendidikan Islam
Teknik brainstorming sangat tepat digunakan dalam:
Materi perbandingan mazhab.
Membantu siswa tidak fanatik buta terhadap satu mazhab, namun juga tidak membenci mazhab lainnya.
Membuka wawasan bahwa kebenaran tidak tunggal, tapi bisa dipahami dari berbagai perspektif.
Brainstorming sebagai "Pengacauan Otak" dalam Pelatihan (Training)
Dalam konteks pelatihan atau training (tadrib), brainstorming bisa diarahkan sebagai:
Teknik talqin (indoktrinasi): peserta diberi banyak pertanyaan dan bantahan hingga bingung dan ragu pada pemahamannya sendiri.
Di saat pikirannya guncang dan tidak stabil, barulah instruktur memberikan doktrin/pemahaman baru.
Tujuannya bukan menghancurkan keyakinan peserta, melainkan membandingkan berbagai pandangan agar peserta memahami bahwa:
“Setiap kebenaran yang dicapai manusia bersifat nisbi dan terbatas oleh ruang dan waktu.”
Kesimpulan
Teknik brainstorming adalah cara efektif untuk menggali ide dan membuka diskusi bebas, yang sangat cocok digunakan untuk materi yang memerlukan perbandingan pemikiran, seperti perbandingan mazhab. Namun, teknik ini butuh pengelolaan guru yang baik, agar tidak menimbulkan kekacauan atau kebingungan tanpa arah.
3. Teknik Qishah (Bercerita)
Qishah (القصّة) berasal dari bahasa Arab yang berarti "menceritakan" atau "mengikuti jejak." Dalam pendidikan, teknik ini digunakan sebagai strategi penyampaian materi ajar, khususnya nilai-nilai moral dan karakter, melalui cerita yang disampaikan secara lisan.
Tujuan Utama Teknik Bercerita:
Membedakan perbuatan baik dan buruk.
Menanamkan karakter dan nilai moral.
Mengembangkan daya pikir, konsentrasi, dan imajinasi.
Memahami konsep agama secara emosional.
Membangkitkan rasa ingin tahu dan menciptakan suasana menyenangkan.
Fungsi Teknik Bercerita:
Membangun kontak batin:
Guru yang bercerita dapat lebih dekat dengan siswa, membangun kepercayaan, dan menjadi teladan.Sebagai media penyampai pesan/nilai agama:
Cerita mengandung pesan-pesan moral yang dapat disimpulkan oleh guru atau siswa sendiri.Pendidikan imajinasi/fantasi:
Cerita merangsang daya cipta dan rasa ingin tahu anak.Pendidikan emosi:
Cerita menyentuh emosi siswa: sedih, bahagia, takut, haru, dll.Membantu identifikasi diri/perbuatan:
Siswa belajar membedakan mana tokoh baik dan buruk sebagai bentuk pendidikan karakter.Memperkaya pengalaman batin:
Membantu siswa menjadi pribadi yang tangguh dan berprinsip.Sarana hiburan dan penarik perhatian:
Cerita sebagai hiburan yang mendidik dan menghilangkan kejenuhan belajar.
Kriteria Memilih Tema Cerita:
Aspek Agama:
Cerita harus sesuai ajaran agama, tidak menyesatkan akhlak atau aqidah.Aspek Pedagogis:
Cerita harus mendidik dan menghibur secara bersamaan.Aspek Psikologis:
Disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan siswa (cara berpikir, emosi, bahasa, dll).
Teknik Penyampaian Cerita:
1. Dengan Alat Peraga
a. Langsung (benda asli):
Gunakan benda nyata seperti hewan atau alat rumah tangga.
Langkah: dikenalkan → dijelaskan → disimpan → bercerita.
b. Dengan Gambar:
Gunakan gambar yang menarik, jelas, mudah dilihat dan dimengerti.
Penting: jangan terlalu tinggi/terlalu kecil dan ditampilkan satu per satu.
c. Dengan Buku Cerita Bergambar:
Guru membacakan sambil memperlihatkan gambar.
Posisi buku harus bisa dilihat semua siswa.
2. Tanpa Alat Peraga (Ekspresif):
Gunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh, suara, dan intonasi secara sungguh-sungguh.
Bahasa harus jelas dan komunikatif.
Atur posisi duduk.
Hindari menegur siswa saat bercerita.
Langkah Awal Pelaksanaan Teknik Cerita:
Komunikasikan tujuan dan tema cerita.
Atur posisi duduk yang nyaman dan mendukung konsentrasi.
Gunakan intonasi yang menarik dan ekspresif.
Teknik bercerita adalah cara yang efektif dan menyentuh dalam menyampaikan pendidikan karakter dan nilai keagamaan. Cerita dapat lebih membekas daripada sekadar nasihat, karena mampu menyentuh hati dan emosi siswa secara langsung.
Sebagaimana dikatakan Mahmud Yunus:
Pengaruh cerita lebih besar daripada hanya memberikan nasihat atau perintah/larangan kepada siswa.
5. Teknik Qudwah (Imitasi):
Teknik qudwah adalah pendekatan pendidikan Islam yang dilakukan dengan memberikan contoh nyata dalam perilaku. Guru tidak cukup hanya menyampaikan ajaran secara lisan (ceramah atau diskusi), tetapi harus mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar bisa ditiru (diimitasi) oleh siswa.
Ini sejalan dengan fitrah manusia yang suka meniru, terutama terhadap sosok yang dikagumi, seperti guru atau orang tua.
Makna Ayat Al-Qur'an (Ash-Shaf: 2–3)
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”
Maksudnya: Islam mengecam perilaku yang hanya pandai berbicara tapi tidak mengamalkan ajarannya. Oleh karena itu, guru harus menjadi teladan, bukan hanya pengajar.
Bentuk Teknik Qudwah:
Teknik Uswah Hasanah (Keteladanan)
Uswah Hasanah adalah keteladanan yang baik, sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Keteladanan ini muncul dari naluri meniru (taqlid gharizi) dalam diri manusia.
3 Dimensi Peniruan:
Keinginan Meniru (tidak disadari – seperti anak kecil yang meniru orang dewasa).
Kesiapan untuk Meniru (anak memiliki tahap perkembangan tertentu).
Tujuan Meniru (ada peniruan sadar karena ingin menjadi seperti yang ditiru).
Kelebihan Teknik Keteladanan:
Memudahkan siswa memahami dan mempraktikkan pelajaran.
Memudahkan guru mengevaluasi hasil belajar.
Mewujudkan tujuan pendidikan yang lebih terarah.
Membangun lingkungan pendidikan yang selaras (sekolah, rumah, masyarakat).
Meningkatkan hubungan harmonis guru-siswa.
Ilmu dipraktikkan langsung, bukan hanya teori.
Guru termotivasi untuk selalu berbuat baik.
Kelemahan Teknik Keteladanan:
Jika guru/orang tua berperilaku buruk, anak tetap bisa meniru keburukannya.
Jika guru tidak konsisten antara ucapan dan tindakan, siswa akan kehilangan rasa hormat, dan hanya memahami secara verbalistik (tanpa penghayatan).
Contoh Teladan Utama: Rasulullah SAW
Rasul menjadi teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan: keluarga, masyarakat, bahkan terhadap non-Muslim.
Ayat Al-Ahzab: 21 menegaskan bahwa Rasulullah adalah Uswatun Hasanah (teladan yang baik) bagi siapa pun yang berharap kepada Allah dan hari akhir.
Kesimpulan:
Teknik qudwah/imitasi adalah strategi pendidikan karakter Islam melalui keteladanan nyata, karena siswa belajar banyak dari apa yang mereka lihat dan alami, bukan hanya dari apa yang mereka dengar.
d. Teknik Modul Belajar
Teknik ini menggunakan paket belajar (modul) yang dirancang berdasarkan kebutuhan dan kemampuan siswa. Guru harus terlebih dahulu melakukan diagnosis terhadap siswa (mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka), lalu menyusun modul lengkap dari awal sampai evaluasi.
Guru juga harus mengatur waktu, menyediakan tes awal, memberi umpan balik, dan menyesuaikan isi modul bila diperlukan.
Keuntungannya:
Siswa bisa belajar sesuai ritme sendiri (individu).
Tidak ada istilah gagal, hanya “belum berhasil”.
Mendorong kreativitas guru dan tanggung jawab siswa.
Kelemahannya:
Terkesan kaku seperti "pabrik pendidikan".
Membutuhkan waktu dan tenaga besar untuk menyusun/modifikasi modul.
Interaksi langsung guru dan siswa berkurang.
e. Teknik Belajar Mandiri (Independent Study)
Teknik ini mendorong siswa untuk belajar sendiri (otodidak) baik di dalam maupun di luar kelas. Guru hanya sebagai pendamping yang menyediakan arahan awal dan memantau kemajuan siswa.
Keuntungannya:
Meningkatkan motivasi, kemandirian, tanggung jawab.
Cocok untuk berbagai kurikulum dan tipe sekolah.
Bisa menjembatani kebutuhan siswa dan masyarakat.
Kelemahannya:
Hubungan sosial antarsiswa bisa menurun.
Membutuhkan banyak guru dan fasilitas.
Sulit memantau hasil belajar karena minim tatap muka.
7. Teknik Ibrah (Mengambil Pelajaran dari Peristiwa)
Ibrah adalah proses mengambil hikmah atau pelajaran dari kejadian nyata untuk membentuk pemahaman abstrak dan penguatan keimanan. Ini dilakukan lewat observasi, perbandingan, analisa, dan renungan.
Tujuannya:
Membentuk siswa yang berilmu, berkarakter, dan beriman kepada Allah.
Contoh Bentuk Teknik Ibrah:
Teknik Eksperimen
Maksudnya:
Siswa melakukan percobaan langsung untuk membuktikan konsep atau hukum tertentu.
Kelebihan:
Siswa yakin terhadap hasil percobaan.
Menumbuhkan sikap ilmiah dan penemuan.
Hasil bisa bermanfaat untuk masyarakat.
Kekurangan:
Lebih cocok untuk pelajaran sains.
Perlu alat & bahan (mahal/sulit dicari).
Membutuhkan ketelitian tinggi.
Teknik Kerja Lapangan
Maksudnya:
Siswa turun langsung ke lapangan kerja, tidak hanya observasi. Mereka ikut serta dalam aktivitas nyata untuk merasakan proses dan memecahkan masalah secara langsung.
Teknik Penyajian Kasus
Maksudnya:
Siswa belajar dari kasus nyata (pengalaman sendiri atau orang lain) untuk dilatih berpikir dan menyelesaikan masalah (problem solving).
Teknik Penyajian Non-directive
Maksudnya:
Siswa belajar dengan observasi dan analisa sendiri berdasarkan tugas pokok dari guru. Mereka:
Mengamati objek,
Menganalisa fakta,
Menyimpulkan hasil,
Menjelaskan temuan,
Membandingkan dengan fakta lain.
Kesimpulan Umum:
Teknik-teknik ini memberikan alternatif pembelajaran yang:
Berpusat pada siswa (student-centered),
Mengembangkan kemandirian,
Meningkatkan pemahaman mendalam dan sikap ilmiah,
Namun tetap membutuhkan peran aktif guru dalam membimbing, merancang, dan menyesuaikan strategi.
Teknik Targhib wa Tarhib (Janji dan Ancaman)
Targhib: Janji dan harapan yang bersifat menyenangkan, seperti surga, pahala, atau apresiasi.
Tarhib: Ancaman terhadap perbuatan buruk, seperti neraka atau konsekuensi negatif.
Tujuannya memotivasi siswa secara fitrah (alami) tanpa tekanan.
Berbeda dengan tsawab (hadiah) dan iqab (hukuman) karena:
Targhib-Tarhib lebih spiritual/transenden, sedangkan tsawab-iqab cenderung duniawi/fisik.
Targhib-Tarhib lebih praktis dan hemat, tidak perlu alat atau biaya.
Targhib-Tarhib cakupannya luas, tidak terbatas pada individu tertentu saja.
Aplikasi Teknik Targhib dan Tarhib dalam Pendidikan
Bimbingan dan Ampunan
Guru memberikan arahan dan harapan ampunan dari Allah kepada siswa yang bersalah, tanpa langsung menghukum.
Tasywiq dan Tadzkir (Motivasi dan Peringatan)
Memberikan semangat berbuat baik dan mengingatkan bahaya perbuatan buruk.
Tsawab dan Iqab (Anugerah dan Hukuman)
Memberi hadiah atau hukuman bersifat edukatif dan sesuai kebutuhan, seperti hadiah umrah atau tugas tambahan.
Teknik Tanqibiyah (Kritik dan Koreksi)
Guru memberi siswa kesempatan mengkaji, mengkritisi, dan menganalisis isi buku atau pendapat guru.
Bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis dan evaluatif.
Contohnya: membuat resensi buku, mengkritisi metode guru.
Teknik Musabaqah (Perlombaan)
Melalui kompetisi akademik atau non-akademik seperti cerdas cermat, lomba karya tulis, atau olahraga.
Efektif untuk menggali potensi siswa secara cepat, tapi bisa menimbulkan rasa rendah diri pada siswa yang kurang berprestasi.
Teknik Ta'lim Lughah (Pengajaran Bahasa)
Teknik-teknik untuk melatih keterampilan berbahasa Arab, meliputi:
Muthala’ah/Qira’ah (Membaca)
Guru membaca, siswa menyimak atau menirukan.
Imla (Dikte)
Guru membacakan, siswa menulis. Melatih pendengaran dan tulisan.
Muhadatsah (Dialog)
Latihan percakapan dua arah antara guru dan siswa.
Insya’ (Mengarang)
Siswa diminta menulis gagasan dalam bentuk tulisan. Contoh jenis:
Washfi: deskriptif
Qishashi: narasi/cerita
Rasa’il: surat
Ibtikari: ide logis
Khayali: imajinatif/fantasi
Makhfudzat (Hafalan)
Menghafal mufradat, kalimat, atau kaidah bahasa.
Qawa’id (Kaidah Bahasa)
Pengajaran tata bahasa Arab agar siswa membaca/menulis dengan benar.
Kesimpulan:
Semua teknik ini bertujuan untuk membentuk siswa berkarakter Islami, berkemampuan akademik, dan mampu menggunakan bahasa Arab dengan baik. Teknik targhib dan tarhib sangat menonjol karena menyentuh sisi spiritual siswa dan memberikan motivasi internal, bukan sekadar paksaan eksternal.
Kalau Taufik ingin, saya bisa bantu buat rangkuman tabelnya, atau modul ajar dari teknik-teknik tersebut. Mau dilanjutkan ke arah mana?
prosedur atau langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan agar metode pembelajaran yang diterapkan benar-benar efektif dan sesuai dengan konteks pendidikan Islam. Berikut ringkasan dan penjelasan maknanya secara sistematis:
Makna Umum:
"Prosedur pembuatan metode pendidikan Islam" artinya adalah langkah-langkah atau proses yang harus dilakukan ketika hendak menyusun metode pembelajaran dalam pendidikan Islam. Dalam proses ini, perlu diperhatikan berbagai faktor yang saling terkait yang akan mempengaruhi efektivitas suatu metode.
Penjelasan Maksud dari Setiap Faktor:
1. Tujuan Pendidikan Islam
Apa maksudnya?
Untuk menjawab pertanyaan "untuk apa pendidikan itu dilakukan?"Mengapa penting?
Karena tujuan menjadi arah utama dari proses pembelajaran, dan metode harus disesuaikan dengan tujuan itu, bukan sebaliknya. Misalnya: jika tujuannya membentuk akhlak, maka metode harus menekankan pada keteladanan, bukan hanya ceramah.
2. Siswa
Apa maksudnya?
Menjawab pertanyaan "untuk siapa dan bagaimana metode itu bisa efektif bagi siswa?"Mengapa penting?
Karena siswa berbeda-beda dalam kemampuan, usia, gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), maka metode juga harus menyesuaikan dengan karakteristik siswa. Siswa bukan menyesuaikan diri dengan metode, melainkan metode disesuaikan untuk mereka.
3. Situasi
Apa maksudnya?
Menjawab pertanyaan "bagaimana kondisi di sekitar proses pembelajaran?"Mengapa penting?
Karena proses belajar bisa dipengaruhi suasana kelas, cuaca, kondisi emosional siswa/guru. Guru harus siap dengan metode alternatif jika situasi berubah dari rencana awal.
4. Fasilitas
Apa maksudnya?
Menjawab pertanyaan "di mana dan dengan apa metode itu dilakukan?"Mengapa penting?
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas lengkap. Maka, guru perlu tahu fasilitas yang tersedia dan menyesuaikan metode yang bisa diterapkan dengan kondisi nyata.
5. Guru
Apa maksudnya?
Menjawab pertanyaan "oleh siapa metode itu diterapkan?"Mengapa penting?
Karena setiap guru punya gaya, kemampuan, dan penguasaan metode yang berbeda. Metode yang sama bisa sukses di tangan guru yang satu dan gagal di tangan guru yang lain. Maka guru harus memilih metode yang paling dikuasainya agar efektif.
6. Bahan Pengajaran
Apa maksudnya?
Menjawab pertanyaan "apa yang diajarkan?"Mengapa penting?
Karena jenis materi (konsep, keterampilan, sikap) membutuhkan metode yang berbeda. Contoh: Mengajar fakta bisa dengan ceramah, tetapi mengajar keterampilan harus dengan praktik atau demonstrasi.
Kesimpulan Makna:
Maksud dari keseluruhan penjelasan ini adalah bahwa pembuatan metode pendidikan Islam tidak bisa sembarangan. Harus diperhitungkan secara menyeluruh dan integratif, mulai dari tujuan, kondisi siswa, situasi kelas, fasilitas yang tersedia, kemampuan guru, hingga isi materi. Tanpa memperhatikan faktor-faktor ini, metode yang diterapkan bisa jadi tidak efektif atau bahkan merugikan proses pendidikan.
Komentar
Posting Komentar