PPT BAB 8 MURID DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Makna Etimologis dan Terminologis "Murid" dan "Thalib"
Secara etimologi (asal-usul kata):
Murid berarti "orang yang menghendaki".
Thalib berarti "orang yang mencari".
Secara terminologi (dalam istilah keilmuan):
Dalam tasawuf, murid adalah orang yang mencari hakikat hidup dengan bimbingan seorang mursyid (guru spiritual).
Sedangkan thalib adalah penempuh jalan spiritual yang berusaha keras untuk mencapai tingkat kesucian (sufi).
Pemakaian dalam Dunia Pendidikan
Istilah "murid" digunakan untuk peserta didik di tingkat dasar dan menengah.
Istilah "mahasiswa" (dari kata thalib) digunakan untuk tingkat perguruan tinggi.
Kedua istilah ini punya makna yang lebih mendalam dibanding sekadar kata “siswa”.
Makna Filosofis dalam Proses Pendidikan
Murid/thalib bukan hanya “penerima ilmu” tapi seseorang yang aktif mencari ilmu dengan kesungguhan.
Ini menunjukkan bahwa peserta didik seharusnya berperan aktif, tidak pasif.
Namun, keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dari peserta didik. Ada pepatah:
“Tiada tepuk sebelah tangan,”
yang berarti, keberhasilan pendidikan memerlukan peran aktif kedua pihak:Peserta didik → aktif belajar (active learning)
Pendidik → aktif mengajar (active teaching)
Sehingga terjadilah "gayung bersambut", atau kerja sama dua arah yang saling mendukung.
Istilah “Peserta Didik”
Istilah ini dipakai untuk mencakup lebih luas:
Anak-anak dan orang dewasa.
Lembaga formal dan nonformal, seperti:
Sekolah
Majelis taklim
Kursus
Pelatihan
Jadi pendidikan bukan hanya terbatas pada sekolah, tapi semua tempat yang memfasilitasi pembelajaran dan pencarian ilmu.
Kesimpulan:
Makna istilah murid dan thalib mengandung filosofi bahwa:
Belajar adalah proses aktif, bukan hanya menerima.
Pendidikan adalah interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik.
Pemakaian istilah peserta didik menegaskan bahwa pendidikan bersifat inklusif dan terbuka bagi semua usia dan latar belakang.
1. Mutarabbiy (المترَبِّي)
Makna: Orang yang sedang dididik.
Ia adalah sasaran utama dari pendidikan, dalam arti bahwa:
Ia diciptakan (dibentuk secara utuh sebagai manusia),
Dipelihara dan diarahkan,
Diperbaiki dan ditumbuhkan dalam lingkungan pendidikan.
Dilakukan melalui hubungan erat dengan murabbiy (pendidik/guru).
Fokusnya adalah aspek pengembangan kepribadian secara menyeluruh—jiwa, akhlak, dan spiritual.
2. Muta’allim (المتعلم)
Makna: Orang yang sedang belajar ilmu pengetahuan.
Ia adalah peserta didik yang secara aktif menerima dan mempelajari ilmu dari mu’allim (pengajar).
Fokusnya pada proses belajar-mengajar (transfer ilmu), seperti membaca, menulis, memahami konsep.
Menekankan aspek intelektual.
3. Muta’addib (المتأدِّب)
Makna: Orang yang sedang belajar adab/akhlak.
Ia adalah peserta didik yang meniru dan meneladani perilaku sopan, santun, dan berakhlak dari mu’addib (pendidik akhlak).
Fokusnya pada pembentukan moral dan karakter.
Pendidikan dalam arti penanaman nilai dan etika.
4. Daaris (الدارس)
Makna: Orang yang belajar dengan melatih daya pikir dan intelektualnya.
Ia berusaha mengasah kecerdasan dan keterampilannya melalui pembelajaran.
Dibimbing oleh mudarris (guru pengajar atau dosen).
Menekankan kemandirian belajar dan penguatan kognitif/intelektual.
Makna Keseluruhan
Dari keempat istilah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam pandangan Islam:
Peserta didik (murid) bukan hanya orang yang pasif menerima ilmu, tapi:
Butuh bimbingan (mutarabbiy) untuk tumbuh secara utuh.
Aktif mencari ilmu (muta’allim) dengan semangat belajar.
Belajar akhlak dan nilai (muta’addib) untuk menjadi manusia yang beradab.
Mengasah pikiran (daaris) agar menjadi cerdas dan terampil.
Kesimpulan
Dalam perspektif Islam, peserta didik adalah individu yang:
Membutuhkan arahan, bimbingan, dan pelatihan,
Agar potensinya—baik spiritual, moral, maupun intelektual—dapat berkembang secara optimal,
Dengan peran aktif dari guru atau pendidik dalam berbagai dimensi (murabbiy, mu’allim, mu’addib, dan mudarris).
karakteristik murid atau peserta didik berdasarkan usia dalam pandangan pendidikan Islam. Maksud dari pembagian ini adalah agar proses pendidikan disesuaikan dengan tahap perkembangan manusia, baik secara fisik, psikologis, maupun spiritual. Berikut penjabaran maksud dari masing-masing tahap:
1. Tahap Asuhan (Usia 0–2 Tahun)
Ciri utama: Belum sadar, belum berkembang akal dan intelektualnya.
Respons belajar: Hanya peka terhadap rangsangan biologis dan emosional seperti kasih sayang, suara, rasa, dan sentuhan.
Makna dalam Islam:
Azan dan iqamat: Sebagai bentuk “pengenalan spiritual awal” kepada Allah. Simbol bahwa sejak lahir, anak sudah ditanamkan nilai keimanan.
Aqiqah, nama baik, madu, dan ASI: Menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pendidikan sejak dini—baik dari aspek fisik, sosial, spiritual, maupun simbolik.
Tujuannya: Memberi fondasi spiritual dan emosional sejak dini, walau anak belum memahami secara rasional.
2. Tahap Jasmani (Usia 2–12 Tahun)
Ciri utama: Anak mulai berkembang secara fisik (motorik), kognitif, dan emosional.
Dalam Islam dikenal sebagai masa ath-thifl (anak kecil).
Respon belajar: Anak sudah mulai bisa diajar, dibina, dilatih, dan dididik sesuai bakat dan minat.
Pendidikan di usia ini bersifat pengembangan dasar, seperti akhlak, ibadah, dan keterampilan awal.
Tujuannya: Menanamkan nilai dan kebiasaan baik dalam suasana yang menyenangkan dan sesuai kemampuan anak.
3. Tahap Psikologis (Usia 12–20 Tahun)
Ciri utama: Memasuki masa baligh (dewasa secara syariat), disebut juga mukallaf (memikul tanggung jawab agama).
Respons belajar: Anak sudah mulai mampu menerima tugas, tanggung jawab, dan komitmen secara serius.
Pendidikan pada fase ini harus mendorong kesadaran diri, tanggung jawab moral, dan pembentukan jati diri.
Tujuannya: Membentuk pribadi yang siap bertanggung jawab dalam agama, sosial, dan kehidupan umum.
4. Tahap Dewasa (Usia 20–30 Tahun)
Ciri utama: Sudah mandiri dan memiliki kematangan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Fase ini disebut sebagai dewasa sejati, tidak lagi remaja atau “anak muda”.
Respons belajar: Lebih rasional, kritis, dan memiliki tujuan hidup yang lebih jelas.
Pendidikan pada fase ini harus lebih menekankan pada pengembangan kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan peran sosial.
Tujuannya: Membekali individu agar siap berkontribusi dalam masyarakat secara aktif.
5. Tahap Bijaksana (Usia 30 Tahun – Akhir Hayat)
Ciri utama: Manusia telah menemukan makna hidup dan jati dirinya.
Tindakan dan keputusan didasari oleh kebijaksanaan dan pengalaman.
Respons belajar: Cenderung reflektif dan transformatif; ingin berbagi dan memberi manfaat.
Pendidikan pada tahap ini lebih menekankan amal, pengabdian, serta transfer ilmu dan nilai kepada generasi berikutnya.
Tujuannya: Mengajak orang untuk mengamalkan ilmunya, hartanya, pengaruhnya demi kemaslahatan umum.
Kesimpulan
Pembagian usia ini menunjukkan bahwa peserta didik bukan hanya terbatas pada anak-anak atau remaja, tetapi mencakup seluruh perjalanan hidup manusia. Setiap tahap membutuhkan pendekatan pendidikan yang sesuai, agar manusia berkembang secara utuh: jasmani, rohani, akal, dan akhlaknya.
"Karakteristik Murid Berdasarkan Teori Fitrah" ini menunjukkan bahwa setiap manusia—termasuk murid atau peserta didik—dilahirkan dengan potensi dasar yang suci dan siap menerima kebenaran, terutama dalam hal beragama (yakni Islam).
Berikut penjabaran maksud dari uraian tersebut:
1. Landasan Al-Qur’an: QS. Ar-Rum: 30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah...”
Makna ayat ini:
Fitrah adalah keadaan alami manusia saat diciptakan oleh Allah.
Fitrah itu cenderung kepada kebenaran, tauhid, dan kebaikan.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan siap menerima agama yang lurus (Islam).
Tidak ada yang bisa mengubah hakikat penciptaan manusia tersebut (fitrah tetap ada walaupun bisa tertutupi).
2. Landasan Hadits Rasulullah ﷺ
“Setiap anak yang dilahirkan memiliki fithrah, sehingga kedua orangtualah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Aswad bin Sari)
Makna hadits ini:
Setiap anak lahir dalam keadaan suci dan siap mengenal Allah.
Faktor pendidikan orang tua dan lingkungan sangat memengaruhi arah perkembangan spiritual anak.
Artinya, jika tidak dibimbing sesuai fitrahnya, maka anak bisa menyimpang dari kebenaran.
3. Pengertian Fitrah dalam Islam
Fitrah = Potensi bawaan dari Allah yang ada dalam diri manusia sejak lahir.
Fitrah mengandung:
Kecenderungan kepada tauhid (mengakui Tuhan Yang Maha Esa).
Kesiapan untuk menerima nilai-nilai kebaikan dan ajaran Islam.
Fitrah bersifat:
Universal: dimiliki oleh setiap manusia.
Murni dan tidak bisa diubah: tapi bisa tertutupi oleh lingkungan yang buruk.
4. Implikasi terhadap Pendidikan dan Karakter Murid
Murid sudah memiliki potensi untuk menjadi baik, jujur, dan beriman sejak lahir.
Tugas pendidik bukan menciptakan potensi, melainkan mengembangkan dan menjaga fitrah tersebut.
Lingkungan, orang tua, dan guru sangat penting dalam membimbing anak agar fitrahnya berkembang secara positif.
Pendidikan Islam seharusnya menguatkan sisi fitrah murid, bukan memaksakan hal-hal di luar kodratnya.
Kesimpulan
Maksud dari "Karakteristik Murid Berdasarkan Teori Fitrah" adalah bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci dan siap menerima Islam serta nilai-nilai kebaikan. Pendidikan yang benar harus menghargai, membimbing, dan menjaga potensi fitrah tersebut agar anak berkembang menjadi pribadi yang lurus, beriman, dan bertanggung jawab sesuai kodrat penciptaannya.
"Karakteristik Murid Berdasarkan Tingkat Kecerdasan" adalah sebagai berikut:
✅ Makna Umum:
Setiap murid memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, sehingga cara mengajarnya tidak bisa disamaratakan. Guru harus menyesuaikan metode dan pendekatannya berdasarkan tingkat kecerdasan peserta didik agar proses pembelajaran lebih efektif.
📚 Penjelasan Detail:
1. Murid dengan Kecerdasan Tinggi (Genius):
Ciri: Cepat tangkap, kreatif, kritis, dan mandiri.
Metode yang cocok:
Student-Centered Learning (berpusat pada murid) seperti:Problem solving (memecahkan masalah)
Eksperimen (uji coba teori)
Resitasi (penugasan)
Alasannya: Karena mereka mampu berpikir mendalam dan aktif belajar secara mandiri serta mampu mengembangkan gagasan sendiri.
2. Murid dengan Kecerdasan Rendah (Seperti Idiot, Debil, Embisil):
Ciri: Kesulitan berpikir logis, lemah dalam memahami pelajaran.
Metode yang cocok:
Teacher-Centered Learning (berpusat pada guru) seperti:Guru memberi petunjuk jelas
Contoh konkret
Model atau demonstrasi langsung
Pengawasan ketat
Alasannya: Karena mereka membutuhkan bimbingan dan arahan langsung serta tidak mampu belajar mandiri secara efektif.
Catatan: Istilah seperti "idiot, debil, embisil" adalah istilah lama dalam psikologi yang sekarang tidak disarankan digunakan karena kurang manusiawi dan bisa menyinggung. Sebaiknya diganti dengan istilah yang lebih etis seperti "anak dengan kebutuhan khusus" atau "anak dengan hambatan intelektual."
3. Murid dengan Kecerdasan Rata-rata (Normal IQ):
Ciri: Mampu belajar dengan baik jika dibimbing.
Metode yang cocok:
Gabungan antara guru dan murid aktif, misalnya:Diskusi
Tanya jawab
Seminar
Dramatisasi
Alasannya: Karena mereka butuh keterlibatan aktif tetapi tetap memerlukan arahan dari guru.
🧠 Jenis-Jenis Kecerdasan yang Dimiliki Murid (Kecerdasan Majemuk):
Selain IQ (kecerdasan intelektual), murid juga bisa memiliki:
Kecerdasan bahasa (verbal)
Kecerdasan logika/matematika
Kecerdasan seni/estetika
Kecerdasan etika/moral
Kecerdasan sosial (berinteraksi)
Kecerdasan emosional (mengelola perasaan)
Kecerdasan spasial/visual
Kecerdasan kinestetik (olah tubuh/fisik)
🎯 Kesimpulan Utama:
Setiap murid unik. Maka, guru harus memahami karakter dan kecerdasannya terlebih dahulu sebelum mengajar. Tujuannya adalah agar proses pembelajaran bisa berjalan efektif, adil, dan menyenangkan.
karakteristik murid berdasarkan tingkat kecerdasan dan bagaimana guru menyesuaikan metode pembelajaran dengan tingkat kemampuan intelektual peserta didik.
Berikut penjelasan isi dan maksud dari paragraf tersebut:
1. Untuk Peserta Didik yang Genius atau Cerdas:
Metode yang dianjurkan: Student centered (berpusat pada siswa).
Bentuk pendekatan:
Pemecahan masalah (problem solving).
Percobaan dan uji coba teori (eksperimen).
Tugas mandiri (resitasi).
Alasannya: Siswa dengan tingkat kecerdasan tinggi cenderung lebih aktif, kreatif, dan mampu berpikir kritis serta mandiri. Maka mereka perlu dilibatkan secara langsung dalam proses belajar.
2. Untuk Peserta Didik dengan Kebutuhan Khusus Intelektual (istilah lama: idiot, debil, embisil):
Metode yang dianjurkan: Teacher centered (berpusat pada guru).
Bentuk pendekatan:
Guru lebih banyak berperan aktif.
Guru memberi arahan dan bimbingan secara langsung dan terus-menerus.
Alasannya: Peserta didik dengan keterbatasan kognitif membutuhkan lebih banyak bantuan, perhatian, dan arahan langsung dari guru.
Catatan Penting:
Penggunaan istilah seperti idiot, debil, embisil dalam teks tersebut sudah tidak etis dan tidak lagi dipakai dalam dunia pendidikan modern, karena:
Mengandung unsur penghinaan.
Tidak sesuai dengan pendekatan pendidikan inklusif dan berempati.
Istilah yang tepat dan manusiawi adalah: anak berkebutuhan khusus, anak dengan hambatan intelektual, atau anak dengan kebutuhan pembelajaran khusus.
Kesimpulan:
Teks ini menjelaskan bahwa strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat kecerdasan murid:
Anak cerdas → aktif, eksploratif, belajar mandiri.
Anak berkebutuhan khusus → perlu pendekatan langsung dan arahan intensif dari guru.
Etika Murid Terhadap Dirinya Sendiri" menjelaskan bagaimana seharusnya sikap dan perilaku seorang murid dalam menjaga dirinya sendiri agar sukses dalam menuntut ilmu, baik dari segi spiritual, akhlak, maupun kebiasaan hidup sehari-hari.
Berikut adalah penjelasan makna dan maksud dari poin-poin tersebut:
✅ Makna Umum:
Seorang murid harus disiplin, menjaga hati, niat, waktu, makanan, pergaulan, dan kebiasaan hidupnya agar bisa meraih keberkahan dan kesuksesan dalam belajar.
📌 Penjelasan Setiap Poin:
Membersihkan hati dari penyakit hati:
Maksud: Seorang murid harus menjauhi sifat buruk seperti iri hati (hasad), dendam, dan akidah yang menyimpang.
Tujuannya: Agar hatinya bersih dan siap menerima ilmu.
Niat ikhlas karena Allah:
Maksud: Belajar bukan untuk dunia (jabatan, pujian), tapi mencari ridha Allah.
Manfaatkan masa muda dan waktu:
Maksud: Jangan suka menunda-nunda. Gunakan waktu sebaik mungkin selagi muda karena waktu tidak bisa diulang.
Qana'ah (menerima apa adanya):
Maksud: Jangan terlalu menuntut kemewahan. Syukuri pakaian, makanan, dan kondisi seadanya, selama itu cukup dan layak.
Membagi waktu dengan disiplin:
Maksud: Atur waktu siang dan malam untuk belajar. Umur adalah aset yang berharga.
Makan halal secukupnya:
Maksud: Jangan makan berlebihan, pilih yang halal dan secukupnya, agar pikiran tetap fokus dan tidak mengantuk/bosan.
Wara’ dan hati-hati dalam urusan hidup:
Maksud: Selalu memilih yang halal dan baik dalam segala hal: makanan, pakaian, tempat tinggal, dll.
Hindari makanan yang melemahkan akal:
Maksud: Kurangi makanan yang bisa menyebabkan lemah ingatan dan kemalasan seperti apel asam, kubis, dan cuka.
Minimalkan tidur berlebihan:
Maksud: Tidur cukup (maksimal 8 jam), tapi jangan berlebihan karena bisa melemahkan semangat dan akal.
Hindari pergaulan yang tidak penting:
Maksud: Jangan sering-sering bergaul tanpa manfaat, apalagi dengan lawan jenis, karena bisa melalaikan dan mengganggu fokus belajar.
🎯 Kesimpulan:
Etika murid terhadap dirinya sendiri mengajarkan bahwa kesuksesan belajar tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tapi juga oleh kebersihan hati, niat yang benar, manajemen waktu, disiplin, dan gaya hidup yang baik. Ini adalah nilai-nilai klasik yang diwariskan para ulama agar ilmu yang dipelajari membawa manfaat dunia-akhirat.
Etika Murid Terhadap Gurunya
Etika atau adab murid kepada guru sangat penting dalam tradisi pendidikan Islam karena guru adalah perantara ilmu dan jalan menuju cahaya hidayah. Berikut penjelasan dari 13 poin yang Anda sebutkan:
Memilih Guru dengan Hati-hati
Murid seharusnya memilih guru dengan pertimbangan matang dan berdoa kepada Allah (istikharah). Pilihlah guru yang baik akhlaknya dan beradab, karena guru tak hanya mengajar ilmu, tapi juga mendidik karakter.
Taat Kepada Guru
Murid harus patuh kepada guru seperti pasien kepada dokter. Tidak membantah atau melawan, tapi mengikuti bimbingan guru dengan penuh kepercayaan.
Menghormati dan Mengagungkan Guru
Pandanglah guru dengan hormat dan yakini bahwa ia adalah sosok yang memiliki ilmu dan kemuliaan yang layak dimuliakan.
Mengenali Hak dan Jasa Guru
Ingat jasa dan hak guru. Jangan lupakan peran besar guru dalam mendidik dan membimbing.
Sabar terhadap Kekurangan Guru
Jika guru bersikap kurang menyenangkan, murid harus bersabar. Jangan sampai hal itu menjauhkan dari ilmu atau mengubah niat belajar.
Bersyukur kepada Guru
Ucapkan terima kasih atas didikan guru, baik dalam bentuk pujian, teguran, koreksi, maupun perhatian. Semua itu tanda cinta dan kepedulian guru.
Meminta Izin sebelum Masuk
Jangan masuk ke tempat guru tanpa izin, kecuali di majelis umum. Hormati ruang pribadi dan waktunya.
Duduk dengan Sopan di Hadapan Guru
Duduklah dengan sopan, tenang, dan penuh hormat, seperti anak kecil di hadapan gurunya. Ini menunjukkan kerendahan hati dan kesiapan menerima ilmu.
Berbicara Sopan kepada Guru
Jangan berkata kasar, sinis, atau mempertanyakan guru dengan nada merendahkan, seperti: “kenapa begitu?”, “siapa yang bilang?”, atau “mana buktinya?”. Jaga sopan santun lisan.
Antusias Mendengarkan Guru
Walau sudah tahu isi pelajaran, tetap dengarkan dengan antusias. Ambillah manfaat seolah-olah belum pernah mendengar sebelumnya. Ini bagian dari adab.
Tidak Mendahului Guru dalam Penjelasan
Jangan menjelaskan atau menjawab sesuatu sebelum guru menjelaskan terlebih dahulu. Kecuali jika guru sendiri mempersilakan.
Menerima dengan Tangan Kanan
Jika guru memberi sesuatu, terimalah dengan tangan kanan sebagai bentuk adab dan penghormatan.
Menyesuaikan Posisi saat Berjalan Bersama Guru
Di malam hari berjalan di depan guru (untuk menjaga), siang hari di belakang guru (mengikuti). Namun, sesuaikan dengan kondisi seperti keramaian atau bahaya.
Kesimpulan:
Etika murid kepada guru adalah bagian penting dalam proses menuntut ilmu. Adab yang benar membuka pintu keberkahan ilmu, sementara kurangnya adab bisa menjadi penghalang manfaat ilmu itu sendiri.
Etika Murid Ketika Belajar
Mengawali dengan Al-Qur’an
Seorang murid hendaknya memulai pencarian ilmunya dengan belajar dan menghafal Al-Qur’an secara serius. Ia juga harus bersungguh-sungguh memahami tafsir dan ilmu-ilmu terkait Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah sumber utama dan induk dari segala ilmu dalam Islam.
Menjauhi Perdebatan di Awal Belajar
Murid pemula sebaiknya tidak langsung terlibat dalam perdebatan atau mempelajari perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah akal (‘aqliyat) atau hal ghaib (sam’iyat). Hal ini bisa membingungkan akal dan membuat hati goyah.
Membenahi Bacaan Sebelum Menghafal
Sebelum menghafal ayat atau ilmu, murid harus memastikan bacaannya sudah benar, baik dengan bantuan guru atau orang lain. Setelah benar, baru dihafalkan dan diulang-ulang agar kuat hafalannya.
Mempelajari Ilmu Hadis
Murid harus menyibukkan diri dengan mempelajari hadis: dari sanad, perawi, hukum-hukumnya, bahasa, hingga sejarahnya. Ini akan memperdalam pemahaman terhadap agama.
³ęsBertahap dalam Belajar
Setelah memahami materi yang ringkas, murid boleh naik ke level pembahasan yang lebih mendalam, namun tetap harus mengulang dan mencatat faidah, permasalahan pelik, dan membandingkan antara kasus-kasus yang mirip.
Menghadiri Majelis Guru
Murid dianjurkan hadir dalam halaqah (majelis belajar) gurunya, baik dalam mengajar atau membaca. Bahkan kalau bisa, hadiri semua majelisnya, karena ini menambah ilmu, adab, dan keberkahan.
Memberi Salam Ketika Masuk dan Keluar
Saat hadir di majelis, murid harus mengucapkan salam dengan suara yang bisa didengar semua hadirin, khususnya gurunya. Ini sebagai bentuk penghormatan. Begitu juga ketika hendak pulang.
Sopan kepada Semua yang Hadir
Murid harus bersikap sopan kepada siapa pun yang hadir dalam majelis. Menghormati teman sekelas adalah bagian dari menghormati guru.
Tidak Malu Bertanya
Murid tidak boleh malu untuk bertanya tentang hal yang sulit, dan harus bertanya dengan sopan dan baik, serta sungguh-sungguh dalam memahaminya.
Menunggu Giliran
Murid harus sabar menunggu gilirannya untuk bertanya atau berbicara, dan tidak mendahului orang lain kecuali telah mendapatkan izin darinya.
Menjaga Adab Duduk dan Membawa Buku Sendiri
Murid harus duduk di depan guru dengan sopan, membawa sendiri bukunya, dan menaruhnya dengan hormat di hadapan guru.
Adab Saat Memulai Pelajaran
Jika tiba gilirannya membuka pelajaran dan telah mendapat izin dari guru, hendaknya memulai dengan ta’awwudz, basmalah, pujian kepada Allah, shalawat atas Nabi Muhammad, lalu mendoakan guru, orang tua, diri sendiri, dan seluruh umat Islam.
Mendukung Teman dalam Belajar
Murid hendaknya membantu menyemangati teman-temannya, menghilangkan rasa malas dan bingung, serta membagi ilmu yang ia miliki.
B. Etika Murid terhadap Bukunya
Berusaha Mendapatkan Buku
Murid harus berusaha memiliki buku-buku yang dibutuhkan, baik dengan membeli, menyewa, atau meminjam. Karena buku adalah alat utama menuntut ilmu.
Meminjamkan Buku
Disunnahkan meminjamkan buku kepada orang lain yang amanah dan tidak merusaknya, karena ini termasuk tolong-menolong dalam ilmu.
Menjaga Buku
Jangan meletakkan buku di tanah dalam keadaan terbuka saat sedang membacanya atau menyalinnya.
Memeriksa Buku yang Dipinjam
Jika meminjam atau membeli buku, periksalah seluruh bagiannya: awal, tengah, akhir, susunan bab, dan halamannya agar tahu kondisinya.
Menyalin Ilmu dalam Keadaan Suci
Jika hendak menyalin ilmu syariat, sebaiknya dalam keadaan suci (berwudhu), menghadap kiblat, dengan badan dan pakaian yang bersih.
Kesimpulan
Bab ini menekankan pentingnya adab dan tata cara murid dalam menuntut ilmu — baik dalam bersikap terhadap gurunya, teman, proses belajar, maupun terhadap buku. Etika seperti ini sangat dijunjung tinggi dalam tradisi pendidikan Islam klasik karena diyakini menjadi sebab keberkahan ilmu dan keberhasilan seorang pelajar.
Maksud dari Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan Seumur Hidup adalah konsep bahwa proses belajar dan pendidikan berlangsung terus menerus sepanjang hidup seseorang, mulai dari bayi hingga meninggal dunia. Pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah saja, tetapi juga di keluarga dan masyarakat. Jadi, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Penjelasan Utama:
Pendidikan berlangsung sepanjang hidup
Pendidikan tidak berhenti setelah lulus sekolah, tapi terus berlangsung dalam berbagai bentuk dan tempat sepanjang hidup seseorang.Tempat pendidikan ada di mana-mana
Pendidikan dapat berlangsung di rumah (keluarga), di sekolah (formal), dan di masyarakat (nonformal dan informal).Jenis pendidikan:
Formal: Pendidikan yang terstruktur dan berlangsung di sekolah (dari TK sampai perguruan tinggi).
Nonformal: Pendidikan di luar sekolah yang terorganisir, seperti kursus, pelatihan, majelis taklim, dan lain-lain.
Informal: Pendidikan yang tidak terstruktur, seperti pembelajaran yang diperoleh dari keluarga, lingkungan sosial, pekerjaan, dan pengalaman hidup sehari-hari.
Konsep Islami mendukung pendidikan seumur hidup
Misalnya hadits “Utlubul ilma minal mahdi ilallahdi” artinya "tuntutlah ilmu sejak buaian sampai ke liang lahat" yang menegaskan pentingnya belajar sepanjang hidup.Manfaat pendidikan seumur hidup:
Mengubah pandangan tentang sekolah dan peran guru.
Menjadikan sekolah sebagai pusat belajar masyarakat.
Memastikan semua orang memiliki kesempatan belajar sesuai kebutuhan dan umur mereka.
Kunci konsep pendidikan seumur hidup:
Pendidikan mencakup semua usia, tidak hanya anak-anak.
Belajar didorong oleh keinginan dan kebutuhan peserta didik.
Metode pembelajaran harus fleksibel dan adaptif sepanjang hidup.
Kurikulum harus dirancang agar mendukung proses belajar seumur hidup.
Intinya:
Pendidikan seumur hidup adalah suatu pendekatan bahwa belajar tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah, tapi terus berlangsung sepanjang hidup, melalui berbagai cara dan tempat, sehingga setiap orang punya kesempatan untuk terus belajar dan berkembang sesuai kebutuhan hidupnya.
Demokrasi Pendidikan menurut Islam
Apa maksud dari Demokrasi Pendidikan Menurut Islam?
Definisi Demokrasi
Kata "demokrasi" berasal dari bahasa Yunani:demos = rakyat
cratos/cratein = kekuasaan atau pemerintahan
Jadi, demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat, di mana semua rakyat memiliki hak untuk ikut serta dalam mengatur atau mengelola pemerintahan, biasanya melalui wakil-wakilnya.Demokrasi dalam Pendidikan
Di Indonesia, demokrasi pendidikan berarti setiap warga negara (termasuk anak-anak) berhak mendapat pendidikan yang layak dan setinggi-tingginya sesuai kemampuan mereka (berdasarkan UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1). Ini disebut demokrasi pendidikan secara vertikal.Prinsip Islam tentang Demokrasi Pendidikan
Islam memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk mengembangkan potensi dan nilai-nilai fitrah (bawaan lahir) mereka sesuai perkembangan zaman. Islam mengajarkan agar pendidik tidak mengekang kebebasan ini, melainkan membimbing agar potensi itu berkembang dengan baik.Dasar Demokrasi Pendidikan dalam Islam
Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim (hadits Nabi Muhammad SAW).
Al-Qur'an juga memerintahkan umat Islam untuk bertanya dan belajar dari para ahli ketika ada hal yang belum dipahami (QS. An-Nahl: 43).
Ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam harus terbuka dan demokratis, memberi ruang bertanya, berdiskusi, dan saling belajar.Pedoman Demokrasi Pendidikan Islam
Dalam pelaksanaan demokrasi pendidikan antara guru dan murid harus ada:Saling menghargai sebagai makhluk yang mulia (QS. Al-Isra: 70).
Pengajaran dengan hikmah dan kebijaksanaan (QS. An-Nahl: 125).
Perlakuan adil tanpa pilih kasih (QS. Al-Maidah: 8).
Kasih sayang dan empati antara pendidik dan peserta didik (hadits tentang menyayangi sesama seperti menyayangi diri sendiri).
Kesadaran akan kebutuhan bimbingan dan petunjuk dari Allah (QS. Al-Fatihah).
Kesimpulan
Islam menyediakan dasar-dasar demokrasi dalam pendidikan yang menjamin kebebasan, keadilan, penghormatan, dan kasih sayang. Dengan prinsip-prinsip ini, demokrasi pendidikan akan mendorong kemajuan umat manusia.
Singkatnya:
Demokrasi pendidikan dalam Islam berarti memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk mendapatkan pendidikan, menghormati kebebasan belajar dan bertanya, serta menjalin hubungan yang adil, saling menghargai, dan penuh kasih sayang antara guru dan murid. Semua itu berdasarkan prinsip Islam yang menuntut ilmu sebagai kewajiban dan cara hidup yang penuh hikmah.
Komentar
Posting Komentar